Eks Menkes Siti Fadillah Kritik Kebijakan Sekolah Online Mendikbud, Sebut Jadi Kebijakan Gagal Gegara Hal Ini | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Kamis, 08 Juli 2021

Eks Menkes Siti Fadillah Kritik Kebijakan Sekolah Online Mendikbud, Sebut Jadi Kebijakan Gagal Gegara Hal Ini

Eks Menkes Siti Fadillah Kritik Kebijakan Sekolah Online Mendikbud, Sebut Jadi Kebijakan Gagal Gegara Hal Ini

Eks Menkes Siti Fadillah Kritik Kebijakan Sekolah Online Mendikbud, Sebut Jadi Kebijakan Gagal Gegara Hal Ini

DEMOCRAZY.ID - Eks Menteri Kesehatan Siti Fadilah mengatakan jika saat ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim tidak bisa duduk tenang.


Siti mengatakan jika sistem pendidikan online yang saat ini dijalankan oleh anak-anak sangat menyiksa waktu dan tenaga, apalagi setiap harinya anak-anak dituntut harus melihat ke layar komputer guna mengikuti pembelajaran.


Deddy yang kala itu mengundang Siti untuk menjadi bintang tamu podcastnya bercerita mengenai anaknya Azka Corbuzier yang setiap harinya mengikuti sekolah online.


Deddy mengatakan jika anaknya mengeluh lantaran keadaan matanya lelah, ditambah lagi dengan PR yang diberikan oleh gurunya. Kewajiban untuk absen juga diberi kebijakan tidak lebih dari 3 kali.


Jika melebihi maka tidak akan naik kelas. Mendengar hal tersebut, Siti merasa kasihan terhadap generasi sekarang.


"Gimana sih itu, parah sih, sangat kasihan dan itu yang sangat memperihatinkan, karena itu kan generasi muda, mereka akan menjadi estafet untuk membangun bangsa ini, kalau dari kecil sekarang sudah seperti ini, saya tidak tau nanti besarnya akan seperti apa," ungkap Siti, Kamis (8/7/2021).


Siti mengatakan jika menteri pendidikan harus bekerja keras untuk memberi kebijakan bagi anak-anak milenial.


"Menteri pendidikan gak bisa duduk dengan tenang ini, pasti harus kerja keras, pasti dia juga pusing karena dia sendiri belum pernah merasakan online, berat loh pak Nadiem," katanya.


Belum lagi jika kebijakan tersebut nantinya gagal dijalankan, Maka Siti mengatakan hal tersebut akan menjadi dosa jariyah.


"Nanti kalau hancur, dosanya dosa jariyah, dosa yang akan terus mengikuti dia, karena saat ini hanya dia lah yang bisa membuat satu kebijakan," ujar Siti.


Hal tersebut belum lagi ditambah dengan mata pelajaran sejarah yang kemudian dihilangkan, menurutnya hal tersebut berdampak pada rasa kebangsaan dan bernegara yang nantinya tidak dimiliki oleh milenial.


"Saya prihatinkan lagi adalah bagaimana kita mengestafetkan rasa kebangsaan dan bernegara pada milenial, tadinya saya bingung, sekarang sejarah gak ada di sekolahan, sejarah dan geografi dihilangkan," ujarnya.


"Saya bingung nantinya bagaimana kita akan menceritakan sejarah kita, bagaimana cara ita menjelaskan pada milenial, kalau ini putus, apakah milenial tidak bingung, apa itu negara dan bangsa saya," pungkasnya. [Democrazy/swd]