Bandingkan Cara Anies dengan Istana soal Penerapan PPKM, Rocky Gerung: Cara Anies Berhasil karena Dia 'Mengajak' Warganya Bukan Mengancam! | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Minggu, 04 Juli 2021

Bandingkan Cara Anies dengan Istana soal Penerapan PPKM, Rocky Gerung: Cara Anies Berhasil karena Dia 'Mengajak' Warganya Bukan Mengancam!

Bandingkan Cara Anies dengan Istana soal Penerapan PPKM, Rocky Gerung: Cara Anies Berhasil karena Dia 'Mengajak' Warganya Bukan Mengancam!
Bandingkan Cara Anies dengan Istana soal Penerapan PPKM, Rocky Gerung: Cara Anies Berhasil karena Dia 'Mengajak' Warganya Bukan Mengancam!


DEMOCRAZY.ID - Ibu kota DKI Jakarta terpantau sepi pada hari pertama penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, Sabtu, 3 Juli 2021.


Kebijakan pembatasan untuk menekan laju penularan Covid-19 ini efektif berlaku pada 3-20 Juli 2021.


Pengamat politik, Rocky Gerung lantas menyoroti Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan terkait hal ini. 


Menurutnya Anies berhasil menerapkan kebijakan ini pada warga di Jakarta.


“Kelihatannya Anies berhasil mengajak masyarakat untuk taat,” katanya dilansir melalui Youtube Rocky Gerung Official, Minggu, 4 Juli 2021.


Terkait hal ini, Rocky melihat adanya perbedaan antara Anies dan Istana Negara.


“Dan itu bedanya dengan istana sebetulnya, kalau kita mesti bikin perbedaan itu,” imbuhnya.


Sebagai informasi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang kembali menunjuk Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Panjaitan sebagai komando kebijakan ini.


Diketahui saat memulai pekerjaannya, Luhut telah mengancam sejumlah pihak untuk mematuhi kebijakan, seperti ancaman dipecat, mengancam penyebar hoax, dan lainnya.


Rocky menilai seolah membandingkan dengan Luhut, Anies menerapkan kebijakan ini dengan mengajak warga bukan mengancam. 


Karena menurut Rocky, jika warga diancam, maka mereka akan mencari jalan lain.


“Anies itu mengajak bukan mengancam, jadi kalau orang mengancam dia cari-cari jalan, jalan-jalan tikus pasti di Jawa itu penuh,” tuturnya.


Namun apabila kebijakan diterapkan dengan cara mengajak, maka muncul keakraban dan semua akan mematuhinya.


“Tapi kalau mengajak itu ada keakraban untuk memberitahu bahwa warga Jakarta kita dalam keadaan bahaya, mari kita sama-sama kontrol diri sendiri itu,” jelasnya.


Sementara Anies sendiri mengingatkan warganya bahwa saat ini Jakarta memasuki kawasan turbulence. Dalam hal ini, Rocky kembali membandingkan narasi yang disampaikan oleh Anies dan Luhut.


Ahli filsuf ini berpendapat, dalam keadaan tertekan, jika warga dibentak dan diancam, maka keadaan akan semakin kisruh dan muncul kepanikan.


“Dalam keadaan orang tertekan, kalau dibentak-bentak, justru makin panik orang kan,” paparnya.


Sehingga, warga hanya perlu diberitahu dengan santai dan Rocky mengapresiasi diksi yang digunakan oleh Anies.


“Jadi beritahu aja bahwa memang situasi (berbahaya), seperti pilihan diksi dari Anies Baswedan,” tandasnya.


Oleh karena itu, Rocky berharap juru bicara dari istana mempelajari cara berkomunikasi yang baik.


“Jadi istana ini, kan mustinya juru bicara-juru bicara istana itu dia pelajari cara berkomunikasi, ambil feedback dari masyarakat itu,” ujarnya.


Lebih lanjut dia berpendapat istana tidak memiliki orang untuk mengolah public issue hingga Jokowi yang dinilai tampil standar.


“Ini istana gak punya orang yang mengolah public issue dengan upaya untuk menghasilkan keakraban di dalam komunikasi, ini buruknya. Presiden Jokowi juga tampil secara standar aja padahal darurat, bahasanya bahasa standar,” pungkasnya. [Democrazy/grk]