BEM STHI Sentil Balik BEM San Pedro: Semuanya Dikorup Seakan-akan Adil & Legal, Siapa Lagi Kalau Bukan untuk Oligarki?! | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Minggu, 04 Juli 2021

BEM STHI Sentil Balik BEM San Pedro: Semuanya Dikorup Seakan-akan Adil & Legal, Siapa Lagi Kalau Bukan untuk Oligarki?!

BEM STHI Sentil Balik BEM San Pedro: Semuanya Dikorup Seakan-akan Adil & Legal, Siapa Lagi Kalau Bukan untuk Oligarki?!

BEM-STHI-Sentil-Balik-BEM-San-Pedro-Semuanya-Dikorup-Seakan-akan-Adil-dan-Legal-Siapa-Lagi-Kalau-Bukan-untuk-Oligarki

DEMOCRAZY.ID - Renie Aryandani memastikan organisasinya tidak setuju Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas San Pedro NTT (BEM San Pedro), Frengky Ottu.


Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum Indonesia  Jentera (BEM STHI Jentera) ini justru sangat setuju dengan apa yang telah disampaikan BEM UI (Universitas Indonesia).


Pasalnya, menurutnya, Presiden Jokowi lebih layak disematkan julukan ‘The King of Lip Service’ ketimbang ‘Bapak Pembangunan Indonesia Sentris’.


Menurutnya, Presiden Jokowi acap kali mengumbar-umbar janji manisnya kepada rakyat. 


Namun, janji eks Gubernur DKI Jakarta itu tidak ada yang direalisasikan.


Hal tersebut dapat tercermin dari upaya pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di era Presiden Jokowi.


Padahal, menurutnya, Presiden Jokowi telah menyampaikan janjinya untuk memperkuat KPK, salah satunya dengan menambah beberapa penyidik KPK.


Lantas, ia pun memandang jika upaya pelemahan KPK tersebut semata-mata dilakukan pemerintah Presiden Jokowi untuk kepentingan oligarki.


“Semua dikorup. Segala upaya dibenarkan, seakan-akan adil dan legal. Untuk siapa itu? Siapa lagi kalau bukan buat oligarki,” ujar Renie kepada wartawan, Minggu, 4 Juli 2021.


Sebelum disinggung oleh mahasiswa, Renie mengungkapkan jika persoalan tersebut sebenarnya sudah sempat disinggung dan diingatkan oleh banyak pihak.


Akan tetapi, menurutnya, Presiden Jokowi seakan-akan tidak tahu-menahu terkait permasalahan tersebut dan terkesan seperti membiarkan.


Lantas, ia pun menyematkan julukan ‘Bapak Oligarki Indonesia’ kepada eks Walikota Solo itu.


“Bung Karno (Presiden Soekarno) itu Bapak Proklamator Indonesia. Sementara, Pak Harto (Presiden Soeharto) itu Bapak Pembangunan. Satu lagi, Pak Presiden Jokowi itu Bapak Oligarki Indonesia,” tuturnya. [Democrazy/pds]