Sebut Indonesia dalam Masalah Besar, Analis Politik Sosial: Akibat Jokowi Kerap Tutup Mata dan Telinga! | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Kamis, 24 Juni 2021

Sebut Indonesia dalam Masalah Besar, Analis Politik Sosial: Akibat Jokowi Kerap Tutup Mata dan Telinga!

Sebut Indonesia dalam Masalah Besar, Analis Politik Sosial: Akibat Jokowi Kerap Tutup Mata dan Telinga!

Sebut-Indonesia-dalam-Masalah-Besar-Analis-Politik-Sosial-Akibat-Jokowi-Kerap-Tutup-Mata-dan-Telinga

DEMOCRAZY.ID - Analis Sosial Politik Ubedilah Badrun kembali mengomentari kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) di periode kedua di pemerintahan Indonesia. 


Ubedilah mengatakan, pemimpin negara tersebut kerap tutup telinga dan tak mau mendengarkan masukan dari sejumlah pengamat, kaum cendekiawan, maupun rakyat biasa.


Bahkan, lebih buruknya, Ubedilah Badrun menduga Jokowi sering berpura-pura mendengar saran dari berbagai lapisan masyarakat seperti ormas keagamaan. 


Padahal, pada akhirnya, saran yang diberikan tidak ditampung dan direalisasikan di kehidupan nyata.


“Jokowi juga tidak mendengar ketika banyak pihak memprotes usulan pemerintah yang mengajukan UU Cipta Kerja atau Omnibus Law,” ujar Ubedilah Badrun, Kamis 24 Juni 2021.


Bukan hanya itu, saat terjadi demo atau aksi besar-besaran di Jakarta, Jokowi juga selalu mengabaikan masukan atau saran dari dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.


Parahnya, hal tersebut semakin diperburuk, lantaran kemampuan Jokowi mengambil keputusan (decision making) dirasa kurang tegas dan lugas.


“Dalam kisruh alih pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi ASN melalui Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) yang bermasalah Jokowi juga tidak tegas,” tuturnya.


Diketahui, tes tersebut tidak meloloskan 75 orang pegawai. 51 di antaranya dicap merah dan tidak dapat dibina lagi oleh lembaga antirasuah.


Bahkan, menurut Ubedilah, pada kesempatan tersebut, Jokowi juga tak mendengarkan aspirasi 74 Profesor (Guru Besar) yang melakukan protes terhadap TWK KPK.


“TWK menyingkirkan penyidik KPK berintegritas tinggi yang menangani kasus korupsi kelas kakap yang terkait dengan elit kekuasaan saat ini,” tegasnya.


Gegara Jokowi, Ubedilah Sebut Indonesia dalam Bahaya


Berkaca dari kenyataan tersebut, Ubedilah berkesimpulan, Jokowi merupakan pemimpin yang abai dan tak mau menerima masukan rakyatnya. 


Bahkan, menurutnya, perilaku itu membuktikan, ada sifat arogansi atau merasa tinggi di dalam diri sang presiden.


“Itu semua adalah fakta empirik untuk menyimpulkan bahwa Jokowi memang sering mengabaikan para cendekiawan,” tegas Ubedilah Badrun.


“Terlihat meremehkan dan arogan. Ini tanda-tanda Indonesia dalam bahaya besar,” pungkasnya. [Democrazy/hps]