Firli Gak Mau Datang, Agenda Debat dengan Direktur KPK Batal | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Jumat, 04 Juni 2021

Firli Gak Mau Datang, Agenda Debat dengan Direktur KPK Batal

Firli Gak Mau Datang, Agenda Debat dengan Direktur KPK Batal

Firli-Gak-Mau-Datang-Agenda-Debat-dengan-Direktur-KPK-Batal

DEMOCRAZY.ID - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri tak hadir dalam debat soal wawasan kebangsaan dengan Direktur Sosialisasi dan Kampanye (Dirsoskam) Antikorupsi KPK, Giri Suprapdiono.


Debat semula digelar di Gedung Merah Putih KPK sekitar pukul 14.00 WIB, disiarkan langsung lewat akun YouTube Jakartanicus dan dipandu Najwa Shihab secara daring.


Namun, hingga 45 menit acara berlangsung, Firli tak juga hadir. Debat hanya dihadiri Giri dan peneliti Indonesian Corruption Watch (ICW), Kurnia Ramadhana yang menemani Giri di ruang debat, press room KPK.


"Teman-teman kita masih menunggu belum juga datang Pak Firli Bahuri memenuhi undangan kali ini," ujar Kurnia.


Ditemui usai acara, Giri mengaku tak secara langsung menantang Firli untuk berdebat. 


Ia hanya menyanggupi tantangan warganet yang menawarkan untuk berdebat dengan Firli.


Menjawab tantangan itu, lewat cuitannya, Giri sempat bertaruh jabatan dalam debat. 


Ia menantang Firli mundur jika kalah dalam debat soal wawasan kebangsaan, begitu pula dirinya.


"Jadi dengan konsekuensi Itu hari ini apakah memang ada yang tidak siap mundur saya pikir bisa ditanyakan ke yang berasangkutan," kata Giri.


Namun di luar itu, kata Giri, ia menyanggupi tawaran ini karena ingin mencerdaskan masyarakat. 


Ia pun menyindir tes wawasan kebangsaan (TWK) sebagai proses alih status pegawai lembaga antirasuah menjadi ASN yang tertutup.


Giri kecewa lantaran sejak awal dirinya tak pernah diberitahu soal proses metodologi, hingga kabar penonaktifan dirinya bersama 74 pegawai lain.


"Tes wawasan kebangsaan ini tertutup sekali. Kita enggak pernah tahu siapa 75. Tidak pernah tahu 51. Tidak pernah tahu soal proses, metodologi, bahkan orang yang mewawancarai kita pun tidak mengetahui juga," ujar Giri. [Democrazy/cn]