Denny Siregar Kena Semprot RJCI Usai Samakan Organisasi Kristen dengan MUI: Hati-Hati Kau, Jangan Berusaha Pecah Belah! | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Selasa, 01 Juni 2021

Denny Siregar Kena Semprot RJCI Usai Samakan Organisasi Kristen dengan MUI: Hati-Hati Kau, Jangan Berusaha Pecah Belah!

Denny Siregar Kena Semprot RJCI Usai Samakan Organisasi Kristen dengan MUI: Hati-Hati Kau, Jangan Berusaha Pecah Belah!

Denny-Siregar-Kena-Semprot-RJCI-Usai-Samakan-Organisasi-Kristen-dengan-MUI-Hati-Hati-Kau-Jangan-Berusaha-Pecah-Belah


DEMOCRAZY.ID - Sebuah teguran keras dari Perkumpulan Relawan Jokowi Center Indonesia (RJCI) yang kini bertransformasi menjadi Rumah Nawacita belum lama ini dilayangkan kepada Denny Siregar. 


Adapin hal tersebut berkaitan dengan sang pegiat media sosial yang menyamakan organisasi Kristen dengan Majelis Ulama Indonesia alias MUI.


Untuk itu, Denny pun ‘disemprot’ dan diperingatkan agar berhati-hati memberi label terhadap institusi gerejawi.


Unggahan Denny yang menjadi sorotan adalah tulisan yang ia terbitkan di laman media sosial Facebook resminya.


Di sana, ia menyebut bahwa Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) kayak (seperti) Majelis Ulama Indonesia (MUI).


Nah, unggahan Denny tersebut lantas dinilai telah menghina PGI dan umat Kristen yang menempatkan PGI sebagai institusi terhormat.


Denny dituding menebar narasi negatif dan berpotensi menciptakan kegaduhan serta prasangka buruk umat Kristen terhadap PGI dan Ketua Umumnya, yakni Pdt Gomar Gultom.


“Hati-hati kau Denny Siregar dalam bermedsos,” peringat Founder RJCI/Rumah Nawacita, Raya Desmawanto Nainggolan, Selasa, 1 Juni 2021.


“Jangan melabeli organisasi keagamaan Kristen, apalagi membanding-bandingkannya dengan organisasi agama lain. Tahan jempolmu.”


Menurut Raya yang juga menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Provinsi Riau, unggahan Denny berpotensi menghasut perpecahan umat Kristen dan mendiskreditkan PGI sebagai organisasi gerejawi yang telah melewati zaman perkembangan Indonesia.


Narasi yang dibangun Denny, lanjut Raya, cenderung tidak mendidik dan justru terkesan memprovokasi.


“Postingan itu seperti kompor. Memprovokasi dan memancing pembelahan serta perpecahan umat yang gerejanya terafiliasi dengan PGI. Menebar rasa saling curiga,” tegas Raya.


Ia menegaskan bahwa tidak ada persoalan antara PGI dengan MUI lantaran kedua lembaga keagamaan tersebut melakukan tugas sesuai dengan norma dan keyakinan yang dianut masing-masing dan bertujuan baik untuk membangun bangsa Indonesia di tengah keberagaman Nusantara.


Hanya saja, ia meminta Denny untuk tidak mencampuri urusan dan kewenangan PGI selaku institusi keagamaan yang kredibel dan independen.


PGI, ujar Raya, tentu tidak seimbang dibanding seorang Denny yang langsung melabeli sebuah organisasi dengan narasi miring.


“Denny mungkin tidak kenal dan tidak tahu apa PGI itu sehingga ia dengan mudah bikin postingan yang tak bermutu itu. Karena sikap PGI tak sesuai seleranya, lalu dia bikin postingan yang aneh-aneh,” pungkas Raya. [Democrazy/trk]