Dari Megawati Kita Belajar: Jalan Pintas 'Honoris Causa' Bagi yang Tak Sempat Kuliah | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Selasa, 08 Juni 2021

Dari Megawati Kita Belajar: Jalan Pintas 'Honoris Causa' Bagi yang Tak Sempat Kuliah

Dari Megawati Kita Belajar: Jalan Pintas 'Honoris Causa' Bagi yang Tak Sempat Kuliah

Dari-Megawati-Kita-Belajar-Jalan-Pintas-Honoris-Causa-Bagi-yang-Tak-Sempat-Kuliah

DEMOCRAZY.ID - Ketua Umum Partai Demokrasi Indoensia Perjuangan (PDI-P), Presiden Republik Indonesia ke-5, sekaligus Ketua Dewan Pengarah Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Megawati Soekarno putri kembali menjadi tema perbincangan yang hangat.


Pasalnya Megawati akan dianugerahi gelas honoris causa sebagai Profesor dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI).


Penganugerahan gelar honoris causa ke Megawati akan dilakukan Jumat, 11 Juni 2021 siang hari di Aula Merah Putih Indonesia Peace and Security Center (IPSC) Sentul, Kota Bogor.


Rektor Unhan RI Laksamana Madya Amarulla Octavian menginformasikan gelar yang diberikan adalah gelar kehormatan di bidang Ilmu Pertahanan bidang Kepemimpinan Strategik.


Sebelumnya, cucu dari proklamator Republik Indonesia tersebut juga pernah dapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Padjadjaran, Waseda University di Jepang, Moscow State Institute di Rusia, dan MIT Ocean University di Korea Selatan.


Megawati menjadi aktor politik yang kesekian yang mendapatkan sorotan masyarakat atas gelar honoris causa yang ia terima.


Tak heran, pemberian gelar kehormatan pada politisi di Indonesia sudah menjadi hal lazim setelah penetapan Peraturan Menristekdikti Nomor 65/2016 tentang Gelar Doktor Kehormatan.


Mantan narapidana korupsi Nurdin Halid adalah satu dari sekian tokoh yang sempat menjadi perbincangan atas pemberian gelar kehormatan tersebut.


Terlebih, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sekaligus anak tunggal dari Megawati, Puan Maharani, juga mendapatkan gelar pendidikan dari metode yang sama.


Celakanya, pembicaraan atas gelar profesor yang akan disematkan pada Mantan Presiden RI tersebut semakin mendapat sorotan ketika jurnal akademik karya beliau yang menjadi syarat penerimaan gelar tersebut beredar di linimasa.


Pasalnya, alih-alih sebagai jurnal dengan metode ilmiah, Megawati menulis sejenis otobiografi berupa sejumlah klaim keberhasilannya sebagai Presiden RI mengantar Indonesia melewati era “krisis multidimensi” pada rentang 2001-2004.


Megawati mengklaim kepemimpinannya berhasil membawa Indonesia melewati krisis di bidang ekonomi, politik, sosial, lingkungan, dan militer. Beliau memperkuat argumen tersebut tersebut dengan pendapat para menterinya di era Kabinet Gotong Royong.


Tak ayal, cap narsis pun disematkan warganet pada sosok yang sudah lebih dari 2 dekade menjabat sebagai Ketua Umum PDI-P tersebut.


Sosiolog kondang Sulfikar Amir (Joel Picard) menjadi sosok pertama yang membawa isu ini ke permukaan melalui kanal Twitter.


"Cara puji diri sendiri dengan cara 'ilmiah'," Tulis Sulfikar Amir melalui akun Twitter pribadinya, @sociotalker, Senin 7 Juni 2021.


Nyatanya, pegelaran pemberian hadiah gelar akademik ini sudah jadi praktik yang dianggap benalu dalam sistem pendidikan Indonesia.


Paling tidak, Megawati sudah memberikan bukti bagi cendikiawan dan akademisi Indonesia bahwa usaha keras mereka dalam menimba ilmu tidak cukup efektif dan efisien adanya. [Democrazy/jgr]