Bisnis Jeblok hingga Utang Ratusan Miliar, Pengamat Baca "Motif" Yusuf Mansur Puji-puji Jokowi | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Rabu, 02 Juni 2021

Bisnis Jeblok hingga Utang Ratusan Miliar, Pengamat Baca "Motif" Yusuf Mansur Puji-puji Jokowi

Bisnis Jeblok hingga Utang Ratusan Miliar, Pengamat Baca "Motif" Yusuf Mansur Puji-puji Jokowi

Bisnis-Jeblok-hingga-Utang-Ratusan-Miliar-Pengamat-Baca-Motif-Yusuf-Mansur-Puji-puji-Jokowi

DEMOCRAZY.ID - Ustaz Yusuf Mansur belakangan disorot usai memuji habis Presiden Jokowi. 


Bahkan dia menyempatkan diri menulis artikel bertajuk “Jokowi memang yang terbaik luar biasa pencapaiannya”.


Belakangan, puji-pujian itu justru mendapat sejumlah kritik dari berbagai kalangan. Karena seolah berupaya menjilat. 


Setidaknya itulah yang disampaikan Pengamat Politik Muslim Arbi.


Katanya, dia membaca ada motif tersendiri atas lakon yang dilakukan Yusuf Mansur atas puji-pujian kepada Jokowi.


Tak lain, karena Ustaz Yusuf Mansur disebut kepincut ingin mendapat kursi komisari di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).


“Pujian terhadap Jokowi menandakan Ustadz Yusuf Mansur berharap dapat jabatan komisaris BUMN. Selama ini dia sudah mendukung Jokowi tapi belum dapat jabatan,” katanya.


Muslim menyebut, Ustaz Yusuf Mansur memuji-muji presiden karena ingin mendapat jabatan komisaris BUMN lantaran bisnisnya sedang bermasalah. Bahkan ditengarai dia tengah terlilit utang besar, ratusan miliar.


“Kabarnya bisnis Ustaz Yusuf Mansur mempunyai utang sampai Rp300 miliar,” ungkapnya.


Puji Jokowi, Yusuf Mansur Cari Untung


Pujian Ustadz Yusuf Mansur ke presiden, kata Muslim setelah Abdee Slank mendapat jabatan Komisaris Independen PT Telkom.


“Padahal peran Ustaz Yusuf Mansur di Pilpres 2019 cukup besar dengan menyebut Presiden selalu puasa Senin-Kamis dan mendoakan rakyatnya,” kata Muslim.


Langkah Ustaz Yusuf Mansur yang mencoba peruntungan mendapatkan komisaris dengan memuji Presiden, menurut Muslim justru makin dijauhi umat Islam.


“Harusnya ulama itu bersifat independen dan tidak mendekat ke penguasa.” [Democrazy/hps]