Begini Kata BKN Soal Kontroversi Pertanyaan Tes TWK Pilih Al-Qur'an atau Pancasila | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Selasa, 01 Juni 2021

Begini Kata BKN Soal Kontroversi Pertanyaan Tes TWK Pilih Al-Qur'an atau Pancasila

Begini Kata BKN Soal Kontroversi Pertanyaan Tes TWK Pilih Al-Qur'an atau Pancasila

Begini-Kata-BKN-Soal-Kontroversi-Pertanyaan-Tes-TWK-Pilih-Al-Quran-atau-Pancasila


DEMOCRAZY.ID - Pertanyaan pada tes wawasan kebangsaan (TWK) pada pegawai KPK yang menjadi syarat alih status ASN menjadi polemik. 


Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana mengklaim pihaknya tidak mempunyai kewenangan untuk mendiskusikan materi TWK secara terbuka karena dinilai bisa melanggar kode etik asesor.


"Saya tidak berwenang mendiskusikan materi TWK secara terbuka karena menyangkut kode etik asesor dan materinya merupakan yg dikecualikan oleh UU KIP (Keterbukaan Informasi Publik). Silahkan saja media mempersepsikan seperti itu," ujar Bima, Selasa (1/6/2021).


Bima mengatakan pihaknya mempunyai dokumen lengkap dalam TWK para pegawai. 


Dokumen itu di antaranya tes tertulis, profiling dan rekaman video atau audio saat wawancara pegawai KPK.


"Kami memiliki dokumen lengkap test tertulis, profiling dan rekaman video atau audio wawancara setiap pegawai KPK yang ikut test," ungkap Bima.


Bima kembali menegaskan bahwa terkait materi TWK itu tidak bisa dibuka secara publik. 


Materi TWK itu hanya bisa dibuka dalam forum resmi ataupun pengadilan.


"Hanya dapat dibuka di forum resmi dan atau pengadilan. Tidak di media," jelasnya.


Pertanyaan TWK Disoroti


Sebelumnya, mantan Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, sempat menyoroti salah satu pertanyaan TWK, yakni pegawai KPK diharuskan memilih Al-Qur'an atau Pancasila.


"Pilih yang mana, Al-Qur'an atau Pancasila mengingatkan saya pada pertanyaan tes wawasan kebangsaan KPK," kata tulis Febri melalui akun Twitternya, @febridiansyah, Selasa (1/6/2021).


Lalu Febri menceritakan salah satu pegawai itu memilih Al-Qur'an dan Pancasila dalam konteks yang berbeda.


"Pegawai jawab, dalam konteks beragama saya memilih Al-Qur'an. Dalam konteks bernegara, saya memilih Pancasila. Pewawancara mendesak beberapa kali, harus pilih salah satu, dan seterusnya," kata Febri.


"Sampai hari ini, tidak ada penjelasan yang klir dari penyelenggara tes tentang pertanyaan-pertanyaan kontroversial tersebut. Wawasan kebangsaan apa yang dikehendaki? Sungguh menyedihkan," ujarnya. [Democrazy/dtk]