Bandingkan dengan Malaysia dan Brunei, MUI: Indonesia Ini Alami Pasar Bebas Ustadz, Semua Orang Bisa Ngaku Dirinya Ustadz | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Rabu, 23 Juni 2021

Bandingkan dengan Malaysia dan Brunei, MUI: Indonesia Ini Alami Pasar Bebas Ustadz, Semua Orang Bisa Ngaku Dirinya Ustadz

Bandingkan dengan Malaysia dan Brunei, MUI: Indonesia Ini Alami Pasar Bebas Ustadz, Semua Orang Bisa Ngaku Dirinya Ustadz

Bandingkan-dengan-Malaysia-dan-Brunei-MUI-Indonesia-Ini-Alami-Pasar-Bebas-Ustadz-Semua-Orang-Bisa-Ngaku-Dirinya-Ustadz

DEMOCRAZY.ID - Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Bidang Penanganan Terorisme, M. Najih Arromadloni menyebut pemerintah Indonesia seringkali dilabeli anti Islam dan mengkriminalisasi ulama. 


Padahal menurutnya, Indonesia merupakan negara yang kebebasan dalam ber-Islamnya sangatlah tinggi.


“Padahal ketika keliling negara Timur Tengah juga ke Eropa, saya melihat bahwa kebebasan ber-Islam paling bagus ada di Indonesia. Saya tidak mengatakan paling bagus tapi paling bebas ada di Indonesia,” katanya saat melakukan dialog di akun Youtube Deddy Corbuzier, Rabu (23/6/2021).


Dia mencontohkan, kebebasan ber-Islam yang paling nyata adalah terkait berdakwah di atas mimbar. 


Menurutnya di negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei setiap orang yang berdakwah di mimbar harus memiliki sertifikat dari pemerintah.


Sementara di Indonesia semua orang bebas naik mimbar dakwah. Dia pun menyebut Indonesia tengah mengalami pasar bebas ustadz.


“Tapi di kita semua bisa naik mimbar menyampaikan materi apapun yang dia suka. Kenapa saya sering mengatakan bahwa kita itu mengalami pasar bebas ustadz? Karena disini semua orang bisa ngaku ustadz,” ungkapnya.


“Orang ngaku polisi bisa dengan cepat ditangkap. Ngaku TNI, tentara bisa ditangkap, ngaku dokter ditangkap. Tapi gimana ngaku ustadz? Semua orang bisa ngaku ustadz,” lanjutnya.


Menurutnya, hal inilah yang membuat masyarakat teracuni oleh doktrin keagamaan yang menyimpang.


“Itu dia. Tapi justru karena itu banyak masyarakat teracuni dengan doktrin-doktrin keagamaan yang menyimpang,” pungkasnya. [Democrazy/okz]