Wartawan Al Jazeera Beberkan Alasan Israel Bombardir Gedung Tempat Mereka Bekerja | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Minggu, 16 Mei 2021

Wartawan Al Jazeera Beberkan Alasan Israel Bombardir Gedung Tempat Mereka Bekerja

Wartawan Al Jazeera Beberkan Alasan Israel Bombardir Gedung Tempat Mereka Bekerja

Wartawan-Al-Jazeera-Beberkan-Alasan-Israel-Bombardir-Gedung-Tempat-Mereka-Bekerja

DEMOCRAZY.ID - Serangan udara Israel terhadap Gedung Al-Jalaa di Gaza Palestina, yang dihuni oleh sejumlah media internasional seperti Al Jazeera dan Associated Press (AP) memicu kecaman dari banyak pihak.

Pasalnya, jurnalis merupakan salah satu pihak yang tak boleh diserang dalam peperangan terbuka. Bahkan, Amerika Serikat sempat meminta Israel untuk tetap menjaga keamanan wartawan di Gaza Palestina.


Wartawan Al Jazeera dan AP yang menjadi korban pengeboman Israel di Gaza Palestina angkat suara dan menceritakan bagaimana peristiwa mengerikan itu terjadi.


Youmna Al-Sayed mendapatkan peringatan serangan udara Israel terhadap Gedung Al-Jalaa di Gaza Palestina kurang dari sejam sebelum pengeboman.


Padahal, bangunan setinggi 11 lantai yang memuat pekerja media internasional dan 60 keluarga Palestina ini hanya memiliki satu lift.


Semua penghuninya dipaksa untuk turun secara bersamaan sebelum Israel meluluhlantakkan seluruh Gedung Al-Jalaa di Gaza Palestina.


"Kami meninggalkan lift untuk mengevakuasi lansia dan untuk anak-anak," kata jurnalis lepas Palestina itu dikutip dari Al Jazeera.


"Dan kami semua berlari ke bawah dan siapa saja yang bisa membawa anak-anak, membantu mereka turun ke bawah," kata Youmna. 


Dirinya membantu dua anak Gaza Palestina untuk mengevakuasi diri keluar Gedung Al-Jalaa.


Israel telah membombardir Gaza Palestina selama enam hari berturut-turut. Setiap akan melakukan pengeboman, penghuni ditelepon terlebih dahulu untuk diperingatkan.


Wartawan di Gaza Palestina diminta Israel untuk segera keluar dari gedung, namun tidak diberikan waktu untuk menyelamatkan peralatan jurnalistik mereka.


Mereka meminta waktu tambahan sebanyak 15 menit. Namun, pemilik gedung Jawad Mahdi bahkan tak bisa berbuat apa-apa. 


Akhirnya, seluruh gedung hancur bersama dengan peralatan jurnalis di Gaza Palestina itu.


Israel menuding Gedung Al-Jalaa di Gaza Palestina yang dihuni oleh sejumlah media internasional itu menjadi alat Hamas untuk menembakkan gedung ke wilayan mereka.


Keberadaan wartawan dan penduduk sipil di gedung itu dianggap Israel sebagai 'tameng hidup' Hamas yang berbasis di Gaza Palestina.


Namun, hal ini dibantah oleh wartawan Al Jazeera Safwat Al-Kahlout. Menurutnya, Gedung Al-Jalaa di Gaza Palestina tidak pernah disentuh Hamas.


"Saya telah berkantor di sini lebih dari 10 tahun dan tidak saya lihat apa-apa (yang mencurigakan)," tuturnya.


"Saya bahkan bertanya pada rekan-rekan saya jika melihat sesuatu yang mencurigakan dan mereka mengonfirmasi pada saya bahawa mereka tak pernah melihat benda-benda militer maupun pejuang militan yang keluar-masuk gedung," kata dia menambahkan.


Ia menegaskan, semua penghuni Gedung Al Jalaa di Gaza Palestina saling kenal dan tahu siapa saja yang keluar-masuk bangunan.


"Di gedung kami, kami punya banyak keluarga yang sudah kami kenal lebih dari 10 tahun," ujar Safwat.


"Kami bertemu setiap hari ketika masuk dan keluar kantor," kata dia menegaskan.


Presiden dan CEO Associated Press (AP) Gary Pruitt juga membenarkan pernyataan Safwat soal penghuni Gedung Al-Jalaa di Gaza Palestina.


"Saya bisa bilang kami telah di bagunan itu sekitar 15 tahun untuk biro kami. Kami jelas tidak melihat keberadaan Hamas di sana," tuturnya.


Wartawan Al Jazeera dan AP kini kehilangan kantor sekaligus 'rumah kedua' selama bekerja di Gaza Palestina.


"Kamu (Israel) telah menghancurkan pekerjaan, kenangan, dan kehidupan kami. Saya berserah diri, lakukan apa yang kamu inginkan. Masih ada Allah," kata Jawad Mahdi saat menjawab telepon peringatan dari Israel. [Democrazy/pkry]