UAH Difitnah Soal Donasi oleh Eko Kustadhi, Refly Harun: Akibat Tidak Dukung Jokowi di 2019, Siapapun Bakal Mereka Hantam! | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Senin, 31 Mei 2021

UAH Difitnah Soal Donasi oleh Eko Kustadhi, Refly Harun: Akibat Tidak Dukung Jokowi di 2019, Siapapun Bakal Mereka Hantam!

UAH Difitnah Soal Donasi oleh Eko Kustadhi, Refly Harun: Akibat Tidak Dukung Jokowi di 2019, Siapapun Bakal Mereka Hantam!

UAH-Difitnah-Soal-Donasi-oleh-Eko-Kustadhi-Refly-Harun-Akibat-Tidak-Dukung-Jokowi-di-2019-Siapapun-Bakal-Mereka-Hantam


DEMOCRAZY.ID - Nama pegiat media sosial, Eko Kuntadhi akhir-akhir ini menjadi sorotan publik lantaran melakukan tindakan fitnah kepada Ustadz Adi Hidayat (UAH) terkait donasi Palestina.


Sebelumnya, Eko Kuntadhi diketahui membuat sebuah cuitan terkait donasi yang dikumpulkan oleh UAH.


“Alhamdulillah. Terkumpul Rp60 M. Diserahkan Rp14 M,” tulis Eko Kuntadhi, 25 Mei 2021 pukul 19.03 WIB.


Tak lama ia klarifikasi bahwa donasi yang terkumpul adalah Rp30 miliar. 


“Sorry Rp30 M,” tulisnya lagi di hari yang sama pukul 19.32 WIB.


Mendengar hal ini, UAH segera melaporkan Eko Kuntadhi ke pihak terkait. 


Eko Kuntadhi lantas membuat cuitan lagi untuk menanggapi soal dirinya dilapor ke polisi.


“Hahahaha ... twit kayak gini dilaporin polisi. Sensi amat!” tulisnya, 30 Mei 2021 pukul 17.35 WIB.


Refly Harun selaku ahli hukum tata negara lantas membuka suara terkait hal ini. 


Refly menuturkan, kata-kata sindiran sedang dilakukan oleh Eko namun Ade Armando justru membelanya.


“Sekarang hal yang sama dikatakan oleh Eko Kuntadhi. Tapi kata Ade Armando cuitan itu tidak berisi fitnah,” ucapnya dilansir melalui Youtube Refly Harun.


Namun jika dibaca, semua orang akan paham bahwa cuitan Eko adalah bahasa untuk memojokkan.


“Jadi kalau kita melihat, reading between the lines ya, orang paham semua bahasa-bahasa seperti itu adalah bahasa menyindir, bahasa sarkastik. Bahasa yang niatnya memang untuk katakanlah memojokkan, menyindir, merendahkan, dan sebagainya,” kata dia.


Refly menilai tidak ada maksud lain dari cuitan itu.


“Tidak ada maksud lain, karena disampaikan oleh kelompok-kelompok yang selama ini memang sering sekali bertentangan dan kelompok yang menyerang ulama,” jelasnya.


Hal ini menurut Refly karena UAH bertentangan dalam dukungan politik di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.


“Orang semua sudah tau bahwa UAH, Ustadz Abdul Somad (UAS), Tengku Zul, Ustadz Bachtiar Nasir, orang-orang yang dalam dukungan politik kemarin bertentangan atau mendukung Prabowo dan tidak mendukung Presiden Jokowi,” pungkasnya.


Tapi Pilpres 2019 kata Refly sudah selesai dan harus selesai, namun realitanya tidak selesai.


“Tapi itu kan di Pilpres dan saya kira the game should be over. Tetapi rupanya tidak bisa selesai juga,” tuturnya.


Refly mengaku heran dengan kelompok yang pekerjaanya selalu menghantam orang lain.


“Jadi saya sangat heran kemudian ada kelompok-kelompok yang kerjanya menghantam orang lain yang mengkritik Presiden Jokowi,” ujarnya.


Padahal UAH dalam hal ini tidak mengkritik Jokowi dia hanya mengumpulkan dana untuk Palestina dan didonasikan secara bertahap.


“Tapi dalam konteks ini, kan UAH sama sekali tidak mengkritik Presiden Jokowi, tidak memojokkan siapapun. Dia mengumpulkan donasi untuk Palestina dan kemudian disindir, bahkan dicurigai,” imbuhnya. [Democrazy/gmd]