Terungkap! Ternyata Begini Cara Licik TKA China Agar Tak Berikan Devisa Buat Indonesia | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Selasa, 18 Mei 2021

Terungkap! Ternyata Begini Cara Licik TKA China Agar Tak Berikan Devisa Buat Indonesia

Terungkap! Ternyata Begini Cara Licik TKA China Agar Tak Berikan Devisa Buat Indonesia

Terungkap-Ternyata-Begini-Cara-Licik-TKA-China-Agar-Tak-Berikan-Devisa-Buat-Indonesia

DEMOCRAZY.ID - Pembayaran gaji para TKA China dilakukan oleh sebagian investor di China daratan. 

Uang dari gaji tersebut tidak beredar di Indonesia. 


Tidak ada uang masuk ke Indonesia.


Demikian dikatakan Direktur Indonesia Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara beberapa waktu lalu. 


“Hal ini jelas merugikan ekonomi nasional dan daerah yang mengharapkan adanya perputaran ekonomi, peningkatan PDRB dan nilai tambah dari kegiatan industri nikel nasional ini."


Marwan mengatakan, tidak ada yang diharapkan dari TKA China di Indonesia. 


“Mengharap nilai tambah apa, jika kesempatan kerja kasar bagi lulusan SD-SMA pribumi saja dirampok TKA China?” ungkapnya.


Marwan mengatakan, pembayaran sebagian gaji TKA dilakukan di China, maka negara sangat potensial kehilangan penerimaan pajak. 


Tidak ada jaminan VDNI, OSS dan sejumlah perusahaan smelter China lain di Indonesia, khususnya pada industri nikel dan bauksit membayar pajak.


Negara berpotensi kehilangan pendapatan Dana Kompensasi Penggunaan TKA (DKPTKA) yang harus dibayar investor kepada pemerintah, yang akan tercatat sebagai PNBP. 


Apakah pemerintah dan lembaga terkait memahami potensi manipulasi dan kejahatan sistemik ini, dan berani bertindak sesuai peraturan yang berlaku?


“Jika masalah visa, pajak, DKPTKA dan tidak jelasnya kontribusi bagi daerah penghasil SDA ini terus berlangsung dan mendapat perlindungan pemerintah atas nama investasi (FDI), pertumbuhan ekonomi dan proyek strategis nasional, lalu negara dapat apa? 


Rakyat sendiri dipajaki, sementara sebagian perusahaan China dan konglomerat oligarkis bebas bayar pajak dan mendapat pula berbagai fasilitas yang melanggar aturan. Kapan ketidakadilan ini diakhiri?” tanya Marwan. [Democrazy/suaranas]