Sindir Soal Mudik, Sudjiwo Tedjo: Pemerintah Takut Jika Kita Mati, Nanti Tak Ada Lagi yang Bayar Pajak! | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Rabu, 05 Mei 2021

Sindir Soal Mudik, Sudjiwo Tedjo: Pemerintah Takut Jika Kita Mati, Nanti Tak Ada Lagi yang Bayar Pajak!

Sindir Soal Mudik, Sudjiwo Tedjo: Pemerintah Takut Jika Kita Mati, Nanti Tak Ada Lagi yang Bayar Pajak!

Sindir-Soal-Mudik-Sudjiwo-Tedjo-Pemerintah-Takut-Jika-Kita-Mati-Nanti-Tak-Ada-Lagi-yang-Bayar-Pajak

DEMOCRAZY.ID - Budayawan sekaligus pengamat sosial, Sujiwo Tejo turut menanggapi soal polemik pulang kampung alias mudik yang dilarang oleh pemerintah. 

Dia pun menyindir bahwa pemerintah melarang adanya mudik hanya karena takut rakyatanya meninggal, sehingga kekurangan pembayar pajak.


Sujiwo Tejo awalnya membahas soal perbedebatan panjang yang ada di masyarakat, khususnya soal pro-kontra pelarangan mudik. 


Salah satu di antaranya soal ketidakjelasan dari pemerintah yang tidak memperbolehkan mudik namun tetap mengizinkan untuk pergi berwisata.


Namun yang sangat disayangkan olehnya, terkait perbedaan pandangan soal mudik. 


Mereka yang memiliki pandangan berbeda kerap disudutkan oleh orang lain.


Padahal, kata Sujiwo Tejo, bangsa Indonesia adalah negara demokrasi, seharusnya bisa dengan bebas berpendapat tanpa mendapat tekanan dari pihak manapun.


“Melihat fenomena larangan mudik ini kita tertawa saja. Yang saya sayangkan kalau ada orang beda pendapat langsung dibully, padahal di negara demokrasi berbeda pendapat itu tidak apa-apa, artinya sah,” kata Sujiwo saat menghadiri Catatan Demokrasi, dikutip pada Rabu, 5 Mei 2021.


Sujiwo Tejo mengungkapkan, sebenarnya yang bisa jadi pemicu masalah, kalau yang bersangkutan tetap nekat mudik.


“Pendapat itu baru bermasalah kalau diterapkan. Ketika banyak orang sekarang berpendapat bahwa apa salahnya sehingga tidak boleh mudik bertemu orang tua, yaudah enggak apa-apa karena itu hanya pendapat, tapi baru jadi masalah kalau memang dia memaksakan mudik,” tuturnya.


“Orang boleh berpendapat bahwa obat terbaik adalah sungkem terhadap orang tua, dan itu jangan diketawain, masalahnya di medsos kayak gini ditertawakan. Tapi kalau dia memang bertindak dengan mudik, itu baru bermasalah karena bisa menularkan orang lain,” lanjutnya.


Sindiran Telak kepada Pemerintah Terkait Pelarangan Mudik


Lebih lanjut Sujiwo Tejo mengungkapkan pandangan pribadinya, terkait alasan seseroang yang tetap nekat mudik. 


Hal itu lantaran masyarakat sudah jenuh dengan pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah.


Pemerintah sebagai pemangku kebijakan seakan memberikan imbauan yang terkesan memberikan nilai kepada masyarakatnya sendiri. 


Dia pun menyindir, kalau banyak orang yang sekarang malas hidup karena dibebankan dengan sebuah nilai berupa pajak.


“Orang sudah bosen dan nekat mudik mungkin karena pendekatannya bukan imbauan lagi sekarang. Tapi himbauannya, kalau kamu enggak mati nilaimu ini lho. Kalau kamu enggak mati karena Covid, kamu bernilai ini, kalau kamu hidup gunannya ini,” ujar Sujiwo.


“Jangan-jangan kita sekarang malas hidup, karena kalau meninggal pemerintah cuma takut kekurangan pembayar pajak,” sambungnya.


Oleh sebabnya, Sujiwo mengimbau kepada pemerintah agar mengganti gaya penyampaiannya kepada masyarakat.


“Jadi makanya begini yang paling penting filosofinya, kalau kamu hidup, bukan karena kami (pemerintah) takut bakal kekurangan pembayar pajak, tapi karena kamu memang harus hidup, karena kami akan dukung kamu kalau hidup. Jika pemerintah tak janji begitu, aku juga malas jaga nyawaku. Aku nyari kerja sendiri kok, dia (pejabat) enak masih dapat gaji,” imbuhnya. [Democrazy/hps]