Refly Harun: Melalui TWK, Bukti Rezim Jokowi Takut dengan Hal Berbau Islam! | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Senin, 10 Mei 2021

Refly Harun: Melalui TWK, Bukti Rezim Jokowi Takut dengan Hal Berbau Islam!

Refly Harun: Melalui TWK, Bukti Rezim Jokowi Takut dengan Hal Berbau Islam!

Refly-Harun-Melalui-TWK-Bukti-Rezim-Jokowi-Takut-dengan-Hal-Berbau-Islam

DEMOCRAZY.ID - Tes wawasan kebangsaan (TWK) masih menjadi sorotan hingga saat ini. Pasalnya, pertanyaan yang diajukan melalui TWK dianggap tak pantas dan nyeleneh untuk dijadikan sebagai sebuah pertanyaan.

Salah satu pertanyaan yang saat ini disorot adalah tentang bersediakah melepas jilbab.


Ahli hukum tata negara, Refly Harun melalui kanal Youtube Refly Harun turut menanggapi hal ini.


Menurut Refly memang radikalisme di Indonesia itu akan ditumpas habis, namun yang menjadi masalah adalah definisi radikal itu sendiri tidak jelas.


“Karena ada kesan bahwa radikalisme dan radikalisasi akan dibuang, ditumpas di setiap institusi di republik ini. Tapi persoalannya adalah definisi mengenai radikalisasi dan radikalisme itu yang gak jelas,” ujar Refly.


Saat ini berbagai tindakan yang benar selalu disebut radikal.


“Orang kritis dibilang radikal. Tidak cocok dengan pemerintahan dibilang radikal, yang konsisten, berani berhadapan dengan penegak hukum lainnya seperti Novel Baswedan dibilang radikal,” katanya.


Padahal jika bicara mengenai KPK, kata Refly, orang-orang berani lah yang seharusnya dikumpulkan karena memberantas korupsi bukan hal mudah.


“Padahal kalau kita bicara mengenai KPK, justru orang-orang yang berani itulah yang harus dipelihara (dan) dikumpulkan di KPK, karena pemberantasan korupsi adalah tugas yang sangat berat,” pungkas dia.


Lebih lanjut Refly bertanya-tanya kenapa soal mengenai pemberantasan korupsi itu tidak ada dalam TWK. 


Bahkan Refly sampai memberikan contoh pertanyaan yang dianggap lebih baik.


“Persoalannya adalah, kok isu mengenai pemberantasan korupsi itu sendiri tidak diaddress (ditanyakan) di dalam kasus itu (TWK). Kenapa tidak ditanya misalnya strategi untuk melakukan pemberantasan korupsi dan lain sebagainya,” sambung Refly.


Menurut Refly orang yang membuat pertanyaan dalam TWK justru tidak suka memberantas korupsi.


“Atau (pertanyaannya) adalah atasan menyuruh Anda korupsi dan konsekuensinya dipecat, nah itu kan jelas pertanyaan yang lebih menantang. Sepertinya orang yang membuat pertanyaannya justru tidak suka memberantas korupsi,” imbuhnya.


Dengan adanya pertanyaan kritis yang disebutkan Refly, maka akan terlihat sikap dan sifat pegawai KPK.


“Kan harusnya seperti itu sehingga kita akan lihat, apakah orang ini jenis yang ragu-ragu, tegas, atau yang bagaimana. Karena variasi jawaban itu kan menunjukkan (tindakan pegawai),” terangnya


Sayangnya pertanyaan yang ditanya adalah soal jilbab dan lainnya. 


Melalui TWK, kata Refly, terlihat bahwa rezim betul-betul takut akan hal yang berbau Islam.


“Tapi unfortunately yang ditanya adalah soal jilbab dan qunut. Sepertinya kenapa ya? Rezim ini kok sepertinya Islamophobia betul, hal-hal yang berbau Islam ditakutin betul. Seolah-olah kalau orang beragama secara baik, maka orang tersebut pasti radikal,” jelas dia. [Democrazy/gmd]