Politikus PKS Beberkan Sejumlah Bukti Kebijakan Pemerintah Percepat Pemulihan Ekonomi Masih Jauh | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Kamis, 20 Mei 2021

Politikus PKS Beberkan Sejumlah Bukti Kebijakan Pemerintah Percepat Pemulihan Ekonomi Masih Jauh

Politikus PKS Beberkan Sejumlah Bukti Kebijakan Pemerintah Percepat Pemulihan Ekonomi Masih Jauh

Politikus-PKS-Beberkan-Sejumlah-Bukti-Kebijakan-Pemerintah-Percepat-Pemulihan-Ekonomi-Masih-Jauh

DEMOCARZY.ID - Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Byarwati menyebutkan ekonomi nasional masih mengalami resesi.

Hal tersebut berdasarkan data Ekonomi Indonesia Triwulan I-2021 terhadap triwulan I-2020 yang mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,74 persen (yoy).


Sedangkan terhadap triwulan triwulan I-2021 juga masih mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,96 persen (qtq).


“Dengan data itu kita melihat perekonomian nasional masih mengalami resesi,” kata Anis di Jakarta, Kamis (20/5/2021).


“Efektifitas kebijakan pemerintah untuk mempercepat pemulihan ekonomi masih jauh panggang dari api,” sambungnya.


Sebagai perbandingan, anggota Komisi XI DPR RI itu menyebutkan data pertumbuhan ekonomi beberapa negara yang sudah tumbuh positif.


Di antaranya, seperti China (18,3%), Amerika Serikat (0,4%), Singapura (0,2%), Korea Selatan (1,8%), dan Vietnam (4,48%).


Anis juga mengungkapkan dari sisi produksi, dimana kontraksi terdalam terdapat pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan yang mengalami pertumbuhan negatif.


Itu sebesar 13,12 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 7,26 persen, jasa perusahaan sebesar 6,10 persen.

 

Kemudian, jasa lainnya sebesar 5,15 persen, dan jasa keuangan dan asuransi sebesar 2,99 persen.


“Kita harus mengakui, efek kebijakan pembatasan perjalanan dan kegiatan diluar ruang, memiliki dampak terhadap beberapa sektor terkait,” tutur Anis.


Anak buah Ahmad Syaikhu itu juga menyampaikan beberapa sektor yang memiliki kontribusi terhadap PDB.


“Masih mengalami kontraksi, diantaranya industri pengolahan (19,84%) sebesar 1,38 persen, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor (13,10%) sebesar 1,23 persen,” jelasnya.


“Konstruksi (10,8%) sebesar 0,79 persen dan hanya sektor pertanian yang mampu tumbuh positif (13,17%) sebesar 2,95%,” sambung Anis.


Menurutnya, masih terkontraksinya beberapa sektor yang memberikan kontribusi terhadap PDB.


“Menunjukkan kebijakan Pemerintah belum cukup efektif dalam mendorong pertumbuhan di sektor-sektor tersebut,” pungkas Anis. [Democrazy/pjs]