Pengamat Politik: Isu Bipang Jokowi Gagal Gerus Topik TWK KPK | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Senin, 10 Mei 2021

Pengamat Politik: Isu Bipang Jokowi Gagal Gerus Topik TWK KPK

Pengamat Politik: Isu Bipang Jokowi Gagal Gerus Topik TWK KPK

Pengamat-Politik-Isu-Bipang-Jokowi-Gagal-Gerus-Topik-TWK-KPK

DEMOCRAZY.ID - Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi menyatakan tren perbincangan netizen di media sosial Twitter soal tes wawasan kebangsaan Komisi Pemberantasan Korupsi atau TWK KPK tak mampu digerus oleh isu Babi Panggang (Bipang) yang dilontarkan Presiden Joko Widodo jelang lebaran 2021. 

"Meskipun kluster kontra pemerintah paling aktif membicarakan dan terbawa narasi Bipang dalam dua hari ini, ternyata tren pembahasan topik TWK tidak terlalu terpengaruh. Dua hari terakhir tren TWK tetap tinggi," ujar Ismail lewat akun Twitter dikutip Senin (10/5).


Ismail menilai dalam seminggu terakhir, tepatnya sejak 3 sampai 9 Mei 2021, total mention atau penyebutan TWK mencapai 114 ribu cuitan, masih lebih tinggi dibanding total mention Bipang 86 ribu cuitan.


Berdasarkan Social Network Analysis (SNA) peta percakapan tentang TWK pada 9 Mei 2021 memperlihatkan kluster Kontra TWK jauh lebih besar dari cluster Pro TWK.


"Tampak dalam cluster Kontra TWK, bersatu netizen yang selama ini kontra pemerintah dengan netizen umum, ormas, dan aktivis," ujar dia.


Ia menuturkan narasi yang dilontarkan pada beberapa akun kontra TWK yakni dari akun @muhammadiyah, @GUSDURians, @Lakpesdam_PBNU, @febridiansyah, dan akun2 media mainstream seperti @kompasTV, @tempodotco, @korantempo, @kumparan, @detikcom.


Lebih lanjut ia menyimpulkan meski ada isu baru yang sangat kontroversial dan menyita perhatian netizen yakni isu Bipang, ternyata hal itu tidak terlalu mempengaruhi volume percakapan tentang TWK.


Menurut Ismail, di pemberitaan online juga juga tampak kritik dan penolakan atas hasil TWK dari ormas besar seperti Muhammadiyah dan NU, juga dari AJI, ICW, serta beberapa tokoh seperti Emil Salim dan Busyro Muqoddas.


Di sisi lain, kata dia kluster pendukung hasil TWK pegawai KPK lebih kecil dari yang menolak TWK, dan ternyata berkurang volumenya.


Meski begitu, Ismail mengatakan belum banyak terdengar pendapat dari tokoh pemerintah dan partai politik terkait hasil TWK, dan oleh Emil Salim disindir dengan ungkapan, 'berdiam diri berarti bersepakat'. [Democrazy/cn]