Novel Baswedan: Hampir Semua Kasus Besar Ditangani oleh Kami yang Dinonaktifkan! | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Selasa, 18 Mei 2021

Novel Baswedan: Hampir Semua Kasus Besar Ditangani oleh Kami yang Dinonaktifkan!

Novel Baswedan: Hampir Semua Kasus Besar Ditangani oleh Kami yang Dinonaktifkan!

Novel-Baswedan-Hampir-Semua-Kasus-Besar-Ditangani-oleh-Kami-yang-Dinonaktifkan

DEMOCRAZY.ID - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengatakan bahwa 75 pegawai termasuk dirinya yang dinonaktifkan sudah dan tengah menangani kasus-kasus besar.

Diketahui, 75 pegawai yang dimaksud telah dinonaktifkan Ketua KPK Firli Bahuri usai dinyatakan tidak lulus tes wawasan kebangsaan (TWK). 


Novel curiga TWK merupakan skenario untuk menonaktifkan sejumlah pegawai KPK.


"Hampir semua kasus-kasus besar yang terpublikasi itu ditangani oleh kawan-kawan ini," kata Novel saat berbincang, Senin (17/5).


Misalnya kasus korupsi bantuan sosial Covid-19. Novel mengatakan korupsi bansos yang dimaksud bukan hanya berkisar di Jakarta saja, tetapi juga di berbagai wilayah lain yang tengah didalami.


"Ini kasus yang mesti diteliti lebih jauh. Kasus ini nilainya puluhan triliun. Bahkan saya rasa seratus triliun nilai proyeknya. Dan ini korupsi terbesar yang saya pernah perhatikan," ucap Novel.


Kasus lain yakni dugaan korupsi pajak besar serta beberapa kasus mafia hukum. Ada pula kasus korupsi yang melibatkan mantan menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo yang kini tengah dikembangkan lagi.


"Penyelesaian kasus e-KTP untuk bisa menarik kembali kerugian keuangan negara itu juga salah satu menjadi proses yang sedang ditangani," ujar Novel.


Novel tidak bisa memastikan soal kasus Harun Masiku yang hingga kini masih belum ditemukan. 


Dia hanya menyebut kasus lain yang tengah didalami terkait pencucian uang yakni kasus mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi.


"Kalau cuci uang termasuk kasus mantan sekretaris MA terkait dengan cuci uang dan beberapa kasus lain," katanya.


Di kesempatan yang sama, Novel mengaku curiga tes wawasan kebangsaan memang skenario yang dibuat untuk menyingkirkan 75 pegawai KPK termasuk dirinya.


Dia memiliki dugaan tersebut lantaran ada sejumlah kejanggalan dalam prosesnya. 


Terlebih, Novel pun yakin para pegawai yang dinyatakan tidak lulus itu memiliki intelektualitas yang mumpuni.


Selain itu, mereka pun memiliki integritas dalam memberantas korupsi. 


Atas dasar itu, Novel jadi merasa aneh ketika orang-orang yang bekerja dengan baik dan memiliki intelektualitas mumpuni justru dinyatakan tidak lulus dan dinonaktifkan.


"Setidak-tidaknya kalau dilihat, kawan-kawan yang 75 ini orang-orang yang kritis, orang-orang yang bekerja dengan baik, berintegritas, dan sulit dipengaruhi untuk macam-macam," kata Novel.


"Orang-orang begini apa mengganggu dalam memberantas korupsi? mestinya mendukung kan, kecuali ada orang yang punya kepentingan sebaliknya dalam upaya pemberantasan korupsi," kata Novel. [Democrazy/cn]