Jokowi Dijebak Soal Bipang Ambawang? Begini Analisa Pengamat Politik Syamsuddin Alimsyah | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Senin, 10 Mei 2021

Jokowi Dijebak Soal Bipang Ambawang? Begini Analisa Pengamat Politik Syamsuddin Alimsyah

Jokowi Dijebak Soal Bipang Ambawang? Begini Analisa Pengamat Politik Syamsuddin Alimsyah

Jokowi-Dijebak-Soal-Bipang-Ambawang-Begini-Analisa-Pengamat-Politik-Syamsuddin-Alimsyah

DEMOCRAZY.ID - Ajakan Presiden Jokowi untuk belanja babi panggang atau bipang ambawang secara online masih menuai kontroversi. Benarkah Jokowi dijebak?

Informasi yang menyebut Jokowi dijebak pun jadi perbincangan publik. 


Kabarnya, Jokowi tak diberi tahu bahwa yang dimaksud bipang ambawang itu adalah babi panggang asal Kalimantan.


“Saya kira kita tentu menjadi kaget, bahkan merasa syok, seolah tidak percaya, bagaimana mungkin seorang presiden bisa mengeluarkan pernyataan yang blunder,” kata pengamat politik, Syamsuddin Alimsyah, dikutip dari kanal YouTube Ustadz Demokrasi, Senin (10/5).


Pendiri Komite Pemantau Legislatif (Kopel) ini menyebut pernyataan Jokowi menuai pro kontra di masyarakat karena mengaitkan bipang ambawang dengan mudik dan Lebaran.


Pria yang akrab disapa Syam ini mengatakan, secara sekilas tidak ada masalah dari pidato Jokowi.


Jokowi hanya mengingatkan bahwa masyarakat dilarang mudik. Jokowi lantas mengatakan bahwa yang tidak bisa mudik bisa belanja oleh-oleh melalui online.


“Yang mengundang kontroversi ketika (Jokowi) menyebut itu adalah makanan bipang (babi panggang) ambawang dari Kalimantan,” ucapnya.


“Ini kemudian mengundang kontroversi karena kita tahu betul bawha bipang ambawang adalah makanan yang terbuat dari babi, yang tentu bagi umat Islam itu adalah tidak diperbolehkan,” sambungnya.


Menurut Syam, pernyataan Jokowi soal bipang ambawang tidak berdiri sendiri, karena Jokowi mengaitkannya dengan mudik.


Ia mempertanyakan apakah saat Jokowi menyampaikan pidato itu ada naskah yang dibaca atau tidak.


Menurut Syam, jika Jokowi tidak tahu apa itu bipang ambawang, seharusnya bertanya terlebih dahulu kepada pembuat naskah.


Sebaliknya, pembuat naskah pidato atau pelaksana acara juga seharusnya memberitahukan kepada Jokowi apa itu bipang ambawang.


“Kecuali kalau memang yang bersangkutan ada niat busuk untuk menjebak presiden kita,” ucapnya.


Bipang Ambawang Cuma Satu


Dikatakan Syam, presiden selama ini sangat hati-hati dalam merawat toleransi dan merawat keberagaman.


Syam menyarankan agar Jokowi memberikan klarifikasi secara langsung, jangan diserahkan kepada anak buahnya.


“Saya kira yang lebih bagus yang harus mengklarifikasi langsung adalah presiden sendiri, tidak boleh diserahkan kepada siapa pun, baik kepada menteri, staf khusus, atau pun jubir,” jelasnya.


“Karena kita lihat dari klarifikasi yang bersangkutan (anak buah Jokowi), tidak ada kejujuran yang keluar dari sana. Yang terjadi adalah justru berupaya bagaimana mencari pembenaran,” ujarnya.


Padahal, lanjut Syam, pernyataan Jokowi soal bipang ambawang adalah fakta.


Menurutnya, kuliner bipang itu banyak dari daerah lain. Ada bipang yang terbuat dari beras.


“Tapi yang namanya bipang ambawang itu hanya satu,” tegas Syam.


Ia khawatir kalau tidak segera diklarifikasi oleh Jokowi, masalah ini akan menjadi bola liar.


“Kalau memang (Jokowi) merasa dijebak, tidak ada masalah. Toh bukankah kita berpengalaman, ada banyak peristiwa, bahkan kebijakan yang serta-merta hanya hitungan beberapa waktu presiden kita mencabut karena alasan dia tidak pernah membaca kebijakan itu,” katanya.


Menurut Syam, publik akan menerima apabila Jokowi mengklarifikasi bahwa yang dia maksud bipang itu bukan babi panggang.


“Kita akan menerima kalau Presiden menyatakan bahwa betul yang dia maksud bipang ambawang adalah tidak seperti yang ditangkap publik,” katanya.


Syam lantas mengingatkan kepada para menteri agar tidak mencelakai presiden.


“Ingat, menteri itu adalah pembantu presiden, bukan menjebak presiden, apalagi dalam situasi sekarang menjelang Lebaran ini agak panas, bukan karena politik, tapi situasi dimana mudik yang kebijakannya banyak ditentang oleh publik,” pungkas Syam. [Democrazy/pjst]