Hamas dan Israel Sebenarnya Bersekutu: Perang Besar Ini Cuma Settingan? | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Selasa, 18 Mei 2021

Hamas dan Israel Sebenarnya Bersekutu: Perang Besar Ini Cuma Settingan?

Hamas dan Israel Sebenarnya Bersekutu: Perang Besar Ini Cuma Settingan?

Hamas-dan-Israel-Sebenarnya-Bersekutu-Perang-Besar-Ini-Cuma-Settingan

DEMOCRAZY.ID - Konflik Israel dan Hamas Palestina belakangan kian memanas. 

Tapi tak ada yang sadar kalau kini disebut ada muatan politik di belakangnya.


Ya, Israel belakangan terus membombardir sejumlah target di Palestina dengan narasi memberangus kelompok militan Hamas. 


Di satu sisi, Hamas juga terus merilis ratusan roketnya mencoba menembus tebalnya sistem pertahanan Iron Dome milik Israel.


Mereka terus kuat memberikan perlawanan dengan narasi membalas kekejian Israel yang melarang kaum muslim untuk salat tarawih di Masjid Al Aqsa di 10 hari terakhir Ramadan, dan pengusiran warga Palestina atas rumah-rumah mereka.


Ribut keduanya kemudian menimbulkan pertanyaan tersendiri bagi banyak pihak. 


Apakah konflik Israel-Palestina murni karena alasan agama atau sebenarnya ada kepentingan politik?


Terkait hal ini Kolumnis media Haaretz, Dmitry Shumsky, mencoba memberikan gambaran kalau konflik terbaru Palestina sebenarnya merupakan buah persekutuan politik tersembunyi antara Benyamin Netanyahu dan kelompok Hamas.


Mewakili aspirasi dan kepentingan politik kelompok sayap kanan Israel, Benyamin Netanyahu sejak berkuasa 2009 sebenarnya disebut telah membuat ‘pakta tak tertulis’ dengan Hamas.


Lewat artikel opininya di Haaretz, dikutip Selasa 18 Mei 2021, Dmitry Shumsky menyebut kebanyakan orang Israel tak menyadari alasan yang mendasari keberanian ekstrim Hamas, meluncurkan ribuan roket ke Israel.


Para pemimpin kelompok berkuasa di Gaza itu tahu Israel di bawah Benjamin Netanyahu tidak hanya enggan mengakhiri cengkeraman Hamas di Jalur Gaza, tetapi juga ingin melestarikannya.


Setidaknya, itu pernah diungkapkan Haim Ramon, mantan Wakil Perdana Menteri dan Menteri Kehakiman Israel. Kesepakatan itu dirancang untuk melemahkan Otoritas Palestina dan pemimpinnya.


Juga melanggengkan keretakan hubungan antara Hamas di Gaza dan Otoritas Palestina di Tepi Barat, sekaligus melemahkan Presiden Mahmoud Abbas.


Israel dan Hamas Sama-sama Punya Kepentingan Politik


Pandangan juga disampaikan Dinna Prapto Raharja, Pengamat Hubungan Internasional Indonesia. 


Dia tak sepakat kalau isu agama mendasari ribut Israel dengan Palestina. 


Sebab katanya, dia justru mencium adanya alasan politik di belakangnya.


Alasan politik kemudian juga turut menyeret isu agama hingga naik ke permukaan. 


“Sebenarnya ini isu klasik yang sejak berpuluh-puluh tahun, di mana wilayah Palestina terus diperkecil. Praktis bukan masalah agama. Sebab di Israel sendiri warga Arabnya ada sekitar 20 persen, besar di sana,” kata dia dikutip Sapa Indonesia Pagi, Selasa 18 Mei 2021.


Kata Dinna, kompetisi politik di Israel dan Palestina belakangan masing-masing memang memanas. 


Belakangan Netanyahu yang sudah 12 tahun berkuasa, semakin terjuan cengkramannya di Israel.


Senada juga dialami Hamas sebagai sebuah partai politik ekstrem di Palestina yang belakangan juga mengendur. Hamas sendiri belakangan juga memiliki muatan politik, yakni ingin mendirikan negara Islam di Palestina.


Palestina sedianya akan melangsungkan Pemilu pada Mei ini, namun diundur menjadi Juni.


Maka itu, di tengah kebuntuan Netanyahu dan Hamas, keduanya seolah menjadikan momentum ini sebagai cara mereka menaikkan pamor di politiknya masing-masing, baik Netanyahu di Israel, dan Hamas di Palestina.


“Jadi di dalam negeri Israel dan Palestina, konflik politiknya memang sedang tinggi. Makanya mereka berusaha merebut hati dengan siapa yang berani menyerang akan mendapat simpati publik di masing-masing,” kata dia.


Dia menyangkal provokasi berbau agama, sentimen-sentimen Palestina dan melarang umat muslim untuk Salat Tarawih adalah pemicu besar, namun dimanfaatkan sebagai pelontar ke masalah selanjutnya demi kepentingan politik masing-masing. [Democrazy/hps]