Direktur KPK Terima Tantangan 'Debat Terbuka' Lawan Ketua KPK soal Wawasan Kebangsaan | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Minggu, 30 Mei 2021

Direktur KPK Terima Tantangan 'Debat Terbuka' Lawan Ketua KPK soal Wawasan Kebangsaan

Direktur KPK Terima Tantangan 'Debat Terbuka' Lawan Ketua KPK soal Wawasan Kebangsaan

Direktur-KPK-Terima-Tantangan-Debat-Terbuka-Lawan-Ketua-KPK-soal-Wawasan-Kebangsaan

DEMOCRAZY.ID - Direktur Sosialisasi & Kampanye Antikorupsi KPK Giri Suprapdiono siap menerima tantangan debat dengan Ketua KPK Firli Bahuri tentang wawasan kebangsaan. 

Namun, Giri meminta syaratnya yang kalah debat harus meletakkan jabatannya.


Tantangan debat soal wawasan kebangsaan antara Giri dan Firli ini mulanya disampaikan oleh akun @NephiLaxmus di Twitter, Sabtu (29/5/2021). 


Tantangan tersebut lantas diteruskan mantan juru bicara KPK, Febri Diansyah.


"Bagaimana jika Firli vs Giri diadu one-on-one debat dan pamer track record soal Wawasan Kebangsaan di forum terbuka? @MataNajwa bisa fasilitasi," tulis @NephiLaxmus, Minggu (30/5).


"Pak @girisuprapdiono bersedia?" tulis @febridiansyah mengutip cuitan tersebut.


Giri pun menyatakan siap menerima tantangan tersebut. 


Dia ingin yang kalah debat mundur dari jabatannya.


"Dengan senang hati. Syaratnya kalau kalah, Mundur dan meletakkan jabatan. Bisa gitu gak?" balas Giri. 


"Debat bukan untuk kalah menang tetapi pencerahan bagi kita," tambahnya.


Giri Termasuk yang Tak Lulus TWK


Salah satu pegawai yang dipecat adalah Direktur Sosialisasi & Kampanye Antikorupsi KPK Giri Suprapdiono. 


Padahal dia penerima penghargaan Makarti Bhakti Nagari Award pada Desember 2020 sebagai lulusan terbaik pelatihan kepemimpinan nasional II angkatan XVII di LAN.


"Saya termasuk yang tidak menyetujui bahwa kita tidak lulus. Kita tuh mungkin lulus dengan cum laude. Karena nilainya terlalu bagus, ketinggian passing gradenya malah nggak boleh," kata Giri, Kamis (27/5/2021).


Lulusan dari Institute to Social Studies-Erasmus University of Rotterdam itu juga pernah bekerja di badan PBB dengan gaji besar. 


Tapi kemudian dia memilih bergabung dengan KPK yang gajinya cuma 1/3 dari yang diterima sebelumnya. 


"Ya karena alasan cinta bangsa dan negeri ini agar bebas dari korupsi. Mungkin terdengar retoris tapi faktanya demikian," ujar Giri.


Apalagi kemudian dia juga kerap diminta mengajar di Lemhanas, Sesko-AD, Kementerian Pertahanan, Sespim Polri, para pejabat eselon 1 dan para kepala daerah hingga menteri. 


Materinya antara lain mengajarkan soal integritas. 


"Tapi kemudian divonis tidak lulus tes wawasan kebangsaan, ini kan aneh sekali," tegasnya. [Democrazy/dtk]