Desa Ini Sama Sekali Tidak Terpapar Virus Corona, Ternyata Ini Faktornya | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Selasa, 25 Mei 2021

Desa Ini Sama Sekali Tidak Terpapar Virus Corona, Ternyata Ini Faktornya

Desa Ini Sama Sekali Tidak Terpapar Virus Corona, Ternyata Ini Faktornya

Desa-Ini-Sama-Sekali-Tidak-Terpapar-Virus-Corona-Ternyata-Ini-Alasannya

DEMOCRAZY.ID - Angka kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 1,78 juta orang positif dan 49.455 orang meninggal dunia. Dengan total penyebaran di 34 Provinsi.

Meski sudah ada vaksin, tetap saja angka penyebaran dan positif corona tinggi. 


Meski begitu, terdapat daerah yang sama sekali tidak tersentuh kasus Corona.


Di kampung adat Baduy tak satu pun warganya yang mengenakan masker, hal ini dituturkan oleh jurnalis tirto saat ia mengunjungi kampung tersebut.


Faisal Irfani, jurnalis tirto, dalam laporannya mengenai kampung adat Baduy, menanyakan kepada salah satu warga mengapa tidak mengenakan masker.


“Wah, di sini, mah, enggak ada COVID-19. Masih nol sejak tahun kemarin. Makanya warga pada biasa aja,” jawab Zaenal warga adat Baduy, Selasa, 25 Mei 2021.


Kelompok adat Baduy merupakan orang asil Sunda yang menempati kawasan Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten.


Melansir tirto, menurut data yang dicatat Dinas Kesehatan Provinsi Banten, per 16 Mei 2021, di Kabupaten Lebak terdapat 148 orang yang masih dirawat, 3.241 sembuh, serta 63 meninggal. 


Menurut Bachtiar, Kasi Kasi Imunisasi, Surveilans, dan Krisis Kesehatan Dinkes Lebak, di antara data tersebut, tidak ada satu pun yang berasal dari desa Kanekes, tempat Baduy tercatat secara administratif.


"Berdasarkan data yang masuk ke kami, memang belum ada COVID-19," ujarnya.


Ketua Satgas Covid-19 Puskesmas Cisimeut, Iton Rustanti, yang berhubungan langsung dengan masyarakat Kanekes, membenarkan data dari Dinas Kesehatan Lebak tersebut.


Menurutnya, setelah melakukan beberapa kali tes, hasil yang didapat di kalangan warga adat Baduy memang negatif.


"Pada bulan Oktober atau November, kami melakukan tes lagi, di jalur keluar-masuk sampai wilayah Baduy, dan negatif semua,” ungkapnya.


Ketua masyarakat Baduy luar, Jaro Saija, mengatakan bahwa di daerahnya tidak ada kasus Covid-19.


"Alhamdulilah di Desa Kanekes 0 persen COVID-19," katanya.


Menurut Jaro Saija, keberhasilan desanya tidak terpapar virus corona, tak lepas dari menegakkan aturan adat dalam pencegahan penyebaran Covid-19.


Jaro Saija mengatakan bahwa sejak pertama kali kasus Covid-19 ditemukan di Indonesia, dirinya segera melakukan karantina wilayah, menjaga perbatasan, serta mencegah orang-orang luar masuk sembarangan.


Tak hanya itu, Saija juga rutin melakukan sosialisasi, menekankan kepada warga betapa pentingnya menjaga diri dari pandemi.


Selain itu, menurut Saija, mereka juga menerapkan aturan negara yang mengharuskan lockdown.


Bukan cuma itu saja, Saija mengaku bahwa ada sebuah kepercayaan yang dipegang teguh masyarakat adat Baduy, keyakinan itu disebut pikukuh.


Pikukuh merupakan pedoman hidup masyarakat Baduy. 


Salah satunya yaitu, Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak, berarti bahwa "gunung jangan diratakan, lingkungan jangan dirusak,”


Sementara itu, dalam konteks pagebluk, pikukuh yang dipegang adalah bahwa setiap penyakit (sasalan) pasti ada obatnya.


“Kuncinya adalah bisa atau tidak bisa, percaya yang dipegang sama hati sendiri. Semua sakit ada obatnya. Sakit kepala, sakit perut, ada mantra-mantranya. Itu bisa dibeli. Pakai apa? Puasa,” Jaro Saija menjelaskan.


Faktor-faktor itulah yang membuat masyarakat adat Baduy terhindar dari paparan virus Corona.


Mereka tetap konsisten menjaga kelestarian lingkungan dan kebersihan hidupnya agar terhindar dari penyakit. [Democrazy/trk]