Daripada Anies-Erick, Prabowo-Airlangga Dinilai Lebih Oke | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Senin, 03 Mei 2021

Daripada Anies-Erick, Prabowo-Airlangga Dinilai Lebih Oke

Daripada Anies-Erick, Prabowo-Airlangga Dinilai Lebih Oke

Daripada-Anies-Erick-Prabowo-Airlangga-Dinilai-Lebih-Oke

DEMOCRAZY.ID - Pengamat Politik dari Universitas Jayabaya Igor Dirgantara menilai Prabowo Subianto - Airlangga Hartarto lebih berpeluang sukses ketimbang Anies Baswedan - Erick Thohir. 

Adapun wacana duet Anies Baswedan-Erick Thohir diusulkan oleh Mantan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono.


Igor mengatakan, minimal ada empat faktor penting dalam komposisi pasangan capres-cawapres nanti di 2024. 


Pertama, berdasarkan faktor etnis (Jawa-luar Jawa). Kedua, faktor usia (tua-muda). Ketiga berdasarkan jenis kelamin (pria-wanita). Dan keempat, sipil-militer atau militer-sipil.


"Skema berlatar belakang militer-sipil jauh lebih kuat untuk berlaga di Pemilu 2024. Faktor etnis Jawa, perempuan, agama (Islam) dan faktor usia hanya menjadi pelengkap yang bagus (komplementer)," kata Igor, Senin (3/5/2021).


Dia pun memberikan contoh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berlatar belakang militer, sekaligus Menko Polkam di masa Presiden Megawati Soekarnoputri. 


Dia menambahkan, SBY terpilih sebagai Presiden dan berkuasa selama 10 tahun (2004-2014).


"SBY didampingi wapres dari kalangan pengusaha atau politisi (Jusuf Kalla), dan profesional (Boediono). Keduanya berlatar belakang sipil," ungkap Direktur Lembaga Survei dan Polling Indonesia (SPIN) ini.


Setelah SBY, kata dia, Jokowi terpilih sebagai presiden juga dua periode, 2014-2024, dengan Jusuf Kalla dan Ma'ruf Amin (ulama) sebagai pendampingnya. JK dan Ma'ruf Amin," kata dia.


"Pasca-Jokowi lengser tahun 2024, bisa saja yang berlatar belakang sipil untuk maju berkompetisi lagi dalam perhelatan Pilpres 2024, tapi peluang menjadi juara tergolong sangat berat. Kecuali jika punya strategi yang luar biasa dan logistik yang kuat," katanya.


Dia mengatakan, Jokowi ikon kepala daerah yang berhasil menjadi presiden. 


"Strategi image building-nya sangat bagus pada masanya. Strategi ini sudah usang jika dipakai lagi untuk pemenangan. Sulit bisa berhasil jika hanya mengekor, tanpa ada jurus terobosan yang baru," ujarnya.


Sebaliknya, kata dia, momentum menteri di kabinet yang berlatar belakang militer seperti SBY, yang juga ketum parpol, muslim, dan Jawa jauh lebih berpeluang memenangkan kompetisi di 2024. 


"Oleh karena itu, Prabowo Subianto dan Airlangga Hartarto adalah dua tokoh yang paling punya potensi," imbuhnya.


Namun, kata dia, narasi duet Prabowo-Puan Maharani jauh lebih bagus, dilihat dari unsur militer-sipil, usia, agama dan jenis kelamin. 


"Begitu juga dengan skema Prabowo-Anies, Prabowo-Sandi, Prabowo-Ganjar, atau bahkan Prabowo-Erick Thohir," jelasnya.


Dia melanjutkan, Prabowo adalah tokoh menteri pertahanan (menhan) yang kokoh sebagai capres karena berlatar belakang militer dan ketum parpol, yakni Gerindra. 


"Komposisi pasangannya tinggal dicari dari tokoh sipil, bisa pengusaha, kepala daerah, Ketua DPR, Ulama, dan lain-lain," tuturnya.


Begitu juga, kata dia, dengan Airlangga Hartarto, yang merupakan tokoh sipil alias Menko Perekonomian sekaligus ketum parpol, yakni Golkar, yang paling kuat untuk bisa maju sebagai capres di 2024. 


Cawapres Airlangga, kata dia, bisa dari kalangan militer, seperti Gatot Nurmantyo, Andika Perkasa, atau Tito Karnavian.


"Tetapi bisa dibayangkan jika Prabowo dapat berpasangan dengan Airlangga Hartarto. Kualifikasi dari unsur militer-sipil sangat terpenuhi. Apalagi keduanya adalah ketum parpol. Peluang sukses bukan mustahil, ketimbang skenario yang lain seperti misalnya Anies-Erick Thohir (sipil-sipil). Bagaimanapun, manuver elite adalah faktor yang paling menentukan di pengujung tahun 2024 nanti," pungkasnya. [Democrazy/sdn]