Bang Yos Ternyata Tak Setuju Labelisasi Teroris KKB Papua, Ini Alasannya | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Selasa, 04 Mei 2021

Bang Yos Ternyata Tak Setuju Labelisasi Teroris KKB Papua, Ini Alasannya

Bang Yos Ternyata Tak Setuju Labelisasi Teroris KKB Papua, Ini Alasannya

Bang-Yos-Ternyata-Tak-Setuju-Labelisasi-Teroris-KKB-Papua-Ini-Alasannya

DEMOCRAZY.ID - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen TNI (Purn) Sutiyoso menilai, pelabelan teroris terhadap KKB di Papua tidak tepat.

Sebab, teroris terkait masalah ideologis atau kepercayaan. Siapa saja yang tidak sepaham akan dihabisi, bukan ingin merdeka.


Itu berbeda dengan yang dilakukan KKB selama ini di Papua dimana mereka membunuhi warga sipil dan TNI/Polri.


Selain itu, juga melakukan pembakaran sekolah-sekolah, membunuhi beberapa guru.


Demikian disampaikan Sutiyoso di kanal YouTube Hersubeno Point, Sabtu (1/5/2021).


“Itu kan jelas politis karena di dalam sekolah guru itu mengajak muridnya untuk mencintai Pancasila dan NKRI,” papar dia.


Sedangkan serangan bersenjata kepada personel TNI/Polri, dimaksud KKB untuk mendapatkan senjata dan amunisi.


Di sisi lain, gerakan mereka terorganisir dengan memiliki LSM yang bergerak untuk menyuarakan kemerdekaan.


Di luar negeri misalnya. Ada Benny Wenda yang melakukan propaganda-propaganda ke forum internasional memisahkan diri dari Indonesia.


“Untuk itu, pemerintah tidak perlu ragu mengatakan sebagai separatis karena niat mereka jelas-jelas ingin merdeka dan memisahkan diri,” tegasnya.


Sosok yang akrab disapa Bang Yos ini lantas mengumpamakan Amerika Serikat yang mengaku bapak moyangnya demokrasi.


Misalnya Texas, salah satu negara bagian di Amerika, ingin memisahkan diri, apa yang akan mereka lakukan?


“Jujur ya, dipastikan bakal diserbu tentaranya. Pasti itu,” tegasnya.


Bang Yos melihat, pemerintah seperit dihantui peristiwa-peristiwa sebelumnya misalnya Talangsari, Tragedi Semanggi atau Trisakti.


Hal ini akhirnya melahirkan undang-undang intelijen dan terorisme yang menurutnya terlemah di dunia.


“Enggak bisa dan enggak perlu kita takut lagi,” tandasnya. [Democrazy/pjs]