Aliran Listrik Jalur Gaza Mati, Israel Baru Mau Perbaiki Jika Syarat Ini Dipenuhi | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Kamis, 20 Mei 2021

Aliran Listrik Jalur Gaza Mati, Israel Baru Mau Perbaiki Jika Syarat Ini Dipenuhi

Aliran Listrik Jalur Gaza Mati, Israel Baru Mau Perbaiki Jika Syarat Ini Dipenuhi

Aliran-Listrik-Jalur-Gaza-Mati-Israel-Baru-Mau-Perbaiki-Jika-Syarat-Ini-Terpenuhi

DEMOCRAZY.ID - Serikat pekerja di Israel Electric Corporation mengumumkan bahwa karyawan tidak akan memperbaiki saluran listrik ke Jalur Gaza, sebelum sebuah syarat yang diajukan harus dipenuhi terlebih dahulu.

Seperti diketahui, Gaza kini luluh lantak akibat gempuran udara Israel yang menyasar bangunan-bangunan yang ada di Jalur tersebut. 


Pipa air dan selokan bawah tanah hancur, begitu pula dengan aliran listrik yang harus terputus karena serangan.


Israel Electric Corporation (IEC) mengatakan, tidak akan ada karyawan mereka yang akan memperbaiki listrik di Gaza, sampai kelompok Hamas yang berkuasa di Jalur itu mengembalikan dua jenazah Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan seorang warga sipil Israel, yang diyakini ditahan di Gaza.


Melansir Times of Israel, Kamis 20 Mei 2021, dua tentara IDF tersebut adalah Hadar Goldin dan Oron Shaul yang tewas dalam perang musim panas 2014 dengan Hamas.


Sementara seorang warga sipil yaitu Avera Mengistu, yang ditangkap setelah dia memasuki Gaza pada tahun yang sama. Mengistu dilaporkan menderita masalah kesehatan mental.


Manajemen perusahaan mengeluarkan pernyataan sebagai tanggapan, yang mengatakan bahwa IEC adalah perusahaan pemerintah, yang tunduk pada ketentuan hukum.


Perusahaan, dalam pernyataan tersebut juga menambahkan bahwa mereka berharap Avera Mengistu dapat pulang ke Israel.


Sementara itu, para pejabat Israel mengatakan terputusnya aliran listrik di Gaza, adalah akibat dari roket Hamas yang ditembakkan ke Israel, dan kemudian merusak saluran listrik Jalur tersebut.


Pada hari Rabu lalu, ratusan orang berkumpul di luar Kantor Perdana Menteri di Yerusalem untuk menuntut pengembalian tentara dan warga sipil yang hilang sebagai syarat untuk gencatan senjata dengan Hamas.


Sementara pekan lalu, seorang pejabat militer yang enggan menyebutkan nama mengatakan, di Gaza hanya terdapat lima jam listrik per hari karena konflik Hamas dengan Israel yang meningkat. 


Sementara diketahui rata-rata listrik di Gaza sebelum pertempuran adalah 16 jam per hari.


Kurangnya listrik sebagian disebabkan oleh penutupan Penyeberangan Kerem Shalom oleh Israel, di mana Gaza menerima sebagian besar bahan bakar mereka, yang sebagian di antaranya digunakan untuk pembangkit listrik Jalur tersebut.


Listrik, Air Mati dan Kotoran Manusia Tumpah ke Jalanan


Lebih jauh, melansir The Guardian, enam dari 10 jalur listrik Gaza dilaporkan terputus dan pasokan telah berkurang lebih dari setengahnya. 


Bahkan, ada beberapa daerah yang terputus sama sekali aliran listriknya.


“Ada beberapa daerah perbatasan yang sama sekali putus aliran listriknya,” kata Mohammed Thabet, juru bicara Perusahaan Distribusi Listrik Gaza.


Menurut UN Office untuk Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), selama serangan yang dilesatkan, Israel telah memblokir akses ke wilayah itu, termasuk untuk pekerja bantuan, dan juga mencegah masuknya bahan bakar. Israel juga menahan truk bantuan dan pembawa pakan ternak.


Selain menahan truk bantuan dan pembawa pakan ternak, OCHA mengatakan bahwa Israel juga telah mencegah nelayan berlayar di lepas pantai Gaza dan telah mengebom peternakan warga.


Selain itu, tempat penyulingan air laut, yang menjadi salah satu sumber utama air penduduk Gaza juga telah hancur dibom oleh Israel. 


Ini menyebabkan sebanyak 250.000 orang tak memiliki pasokan air minum yang layak.


Tak cuma sampai di situ, bahkan di Kota Beit Lahia di Gaza, kotoran manusia sampai tumpah ke jalanan, akibat saluran pembuangan bawah tanah yang hancur karena kena serangan Israel.


“Kotoran manusia dan limbah padat menumpuk di jalan-jalan,” kata OCHA. [Democrazy/hps]