Ustaz Jabrix, Preman Berdarah Dingin yang Tobat Usai Dengarkan Tausiah Perampok Insaf | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Rabu, 28 April 2021

Ustaz Jabrix, Preman Berdarah Dingin yang Tobat Usai Dengarkan Tausiah Perampok Insaf

Ustaz Jabrix, Preman Berdarah Dingin yang Tobat Usai Dengarkan Tausiah Perampok Insaf

Ustaz-Jabrix-Preman-Berdarah-Dingin-yang-Tobat-Usai-Dengarkan-Tausiah-Perampok-Insaf

DEMOCRAZY.ID - Seorang ustaz yang mengenakan baju koko dan peci warna gelap, melantunkan ayat suci Al-Qur'an di dalam Masjid Al Mukaromah, Banyuanyar, Banjarsari, Solo. 

Sesekali, dia memberikan tausiyah kepada para jemaah dari atas mimbar masjid. 


Ustaz itu adalah Sri Mulyono, lebih dikenal dengan panggilan Ustaz Jabrix.


Di masjid tersebut, dia berkesempatan mengisi rangkaian acara buka bersama (bukber) yang diinisiasi komunitas Ekspreso, Eks Preman Solo. 


Di masa mudanya, Sri Mulyono dikenal sebagai preman berdarah dingin. Sudah tujuh kali keluar masuk bui. 


“Saya pernah masuk penjara tujuh kali. Di Solo saya ditahan tiga kali, Sragen satu kali, Jogja satu kali, dan dua kali di Jakarta. Mulai dari kenakalan remaja hingga perampokan,” kata Sri Mulyono.


Salah satu kasus paling berat, yakni saat Sri Mulyono terlibat dalam komplotan perampok “Slamet Gundul”


Pembina Ekspreso itu pernah ikut andil beberapa kasus perampokan bersenjata. Bahkan sempat masuk daftar pencarian (DPO) polisi.


Petualangannya berhenti saat dibekuk polisi pada 1998 silam.


“Saya kena hukuman empat tahun penjara. Saya ditahan di Lapas Cipinang Jakarta,” ujarnya. 


Selama jadi penghuni lapas, Sri Mulyono mendapat pengalaman baru: bermusik. 


Setelah bebas, dia mencoba peruntungan, bergelut di dunia entertainment sebagai pemusik. 


Sebagai musisi, dia biarkan rambutnya panjang menjuntai. 


Terjun di dunia hiburan, perangainya tak berubah. Justru kian menjadi. 


Judi, minuman keras (miras), hingga narkoba jadi makanan sehari-hari. 


“Sebenarnya saya merasa kasihan sama orang tua. Saya sudah masuk keluar penjara tujuh kali ditambah dua tahun kecanduan narkoba,” imbuhnya. 


Selama jadi pecandu barang haram, Sri Mulyono sering merasakan paranoid. 


Muncul rasa curiga dan ketakutan berlebihan. 


“Selalu muncul niatan berbuat kejahatan. Ya maling, judi, sampai mabuk-mabukan. Namun, di lubuk hati paling dalam saya bertanya. Saya ini Islam, tetapi mengapa selalu meninggalkan salat,” katanya.


Di awal 2000-an, Sri Mulyono mendapat hidayah. Suatu ketika, dia berniat salat Zuhur berjemaah di Masjid Agung Surakarta. 


Dia berjalan kaki sejauh tiga kilometer dari rumah ke masjid. Usai salat, dia mendengar tausiah tentang perampok yang tobat dan menjadi seorang ulama. 


Dari kajian itu, muncul keinginan Sri Mulyono untuk hijrah. 


Dunia hitam perlahan ditinggalkan. Awalnya berat. 


Karena dia justru dijauhi teman-temannya. 


“Namun, saya bertahan, hingga akhirnya pada 2012 ada titik terang. Itu ketika saya ditunjuk jadi panitia penggalangan dana pembangunan Masjid Al Anshor di Kalangan, Jagalan, Solo,” katanya. 


Sejurus kemudian, Sri Mulyono mulai memperdalam ilmu agama. 


Dia memutuskan kuliah di usia 46 tahun. Di dua tempat sekaligus.


Yakni Sekolah Tinggi Islam Al-Mukmin (STIM) Ngruki mengambil jurusan Bahasa Arab, juga kuliah di Ma’had Abu Bakar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). 


Mulai 2017, hingga lulus dengan predikat sarjana pendidikan. 


“Dulu saya ini perampok, penjudi, pemabuk, dan pakai narkoba. Sekarang saya jadi guru agama di salah satu SD Islam. Dulu sarapan saya sabu-sabu. Sekarang mengajari anak-anak membaca Al-Qur'an,” kata bapak lima anak tersebut. 


Nah, di bulan suci Ramadan 1442 H ini, Sri Mulyono mengisinya dengan berbagai amalan.  


Menyambangi masjid satu ke masjid lainnya di Kota Bengawan bersama anggota komunitas Ekspreso lainnya. 


“Selain bukber, juga mengadakan kajian, dan masih banyak lagi,” katanya. [Democrazy/jpn]