Tuai Beragam Kritikan, Nyoman Nuarta Cerita Desain Istana Negara Burung Garuda Dipilih Langsung oleh Jokowi | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Kamis, 01 April 2021

Tuai Beragam Kritikan, Nyoman Nuarta Cerita Desain Istana Negara Burung Garuda Dipilih Langsung oleh Jokowi

Tuai Beragam Kritikan, Nyoman Nuarta Cerita Desain Istana Negara Burung Garuda Dipilih Langsung oleh Jokowi

Tuai-Beragam-Kritikan-Nyoman-Nuarta-Cerita-Desain-Istana-Negara-Burung-Garuda-Dipilih-Langsung-oleh-Jokowi

DEMOCRAZY.ID - Seniman asal Bali I Nyoman Nuarta bercerita panjang lebar soal karyanya berupa desain istana negara di ibu kota baru berlambang burung garuda yang belakangan viral diperbincangkan di sejumlah media sosial. 

Ia mengaku desainnya dipilih langsung oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi. 


"Terpilih disain ISTANA NEGARA, di IKN (IBUKOTA NEGARA) Kaltim,Karya saya, melalui sayembara yg diadakan oleh PUPR. Terimakasih semua semoga saya bisa menyelesaikannya dgn baik," kata Nyoman Nuarta seperti dikutip dari postingan di Instagram @nyoman_nuarta, yang diunggahnya, Rabu, 311 Maret 2021.


Desain tersebut memicu banyak reaksi dari masyarakat. Lima asosiasi profesi bahkan menyampaikan kritik akan rancangan tersebut, salah satunya karena bangunan simbol negara dianggap tidak boleh dibangun oleh pematung. 


Lebih jauh Nyoman Nuarta menjelaskan, desain istana negara berlambang burung Garuda diselesaikan hanya dalam tempo 12 hari. 


Ia terlibat dalam sayembara istana negara di Ibu Kota baru ini bermula saat Kementerian PUPR mengundangnya bersama 20 orang arsitek lainnya.


Namun, hanya lima orang yang hadir untuk mengikuti Rapat Koordinasi Persiapan sayembara di Kawasan Inti Pusat Pemerintah IKN. 


Kemudian, lima orang arsitek tersebut diberikan waktu 12 hari untuk menyelesaikan 12 desain IKN seperti istana, Gedung DPR, kantor Kementerian, tempat ibadah dan bangunan lainnya.


Selanjutnya desain-desain dipresentasikan kembali dalam bentuk video pendek. 


"Saat presentasi, saya melihat yang peserta lain tidak rampung, hanya pre-desain saya yang rampung dan paling siap," tuturnya, Selasa, 30 Maret 2021.


Setelah presentasi rampung, kata Nyoman Nuarta, tidak ada lagi kabar mengenai desain Ibu Kota negara tersebut dari pemerintah. 


Ia mengaku sangat terkejut ketika akhirnya dinobatkan menjadi pemenang dan dalam waktu satu bulan diminta membuat pra-desain.


"Desain saya dipilih oleh Bapak Presiden (Joko Widodo) langsung, tidak ada unsur saya meminta sendiri, sehingga saya heran kenapa masih ada orang yang marah kepada saya," ucap Nyoman Nuarta.


Adapun lima asosiasi profesi yang mengkritik desain tersebut adalah Asosiasi Profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Green Building Council Indonesia (GBCI), Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (IAP).


"Atas publikasi yang disampaikan dalam Instagram Bapak Suharso Monoarfa tersebut, telah mengundang ragam reaksi dari para anggota lintas asosiasi profesi," dinukil dari keterangan resmi lima asosiasi, Senin, 29 Maret 2021.


Lima asosiasi itu menilai ada kegelisahan yang perlu disampaikan untuk dapat disalurkan secara terbuka terkait dengan rencana dan rancangan istana negara yang nantinya akan menjadi representasi dari citra Indonesia dan menjadi dasar atas perkembangan peradaban Indonesia dalam kancah dunia.


Setelah memperhatikan gambar-gambar rancangan istana negara anyar itu, asosiasi mengritik rancangan tersebut. 


"Bangunan istana negara yang berbentuk burung Garuda atau burung yang menyerupai Garuda merupakan simbol yang di dalam bidang arsitektur tidaklah mencirikan kemajuan peradaban bangsa Indonesia di era digital dengan visi yang berkemajuan, era bangunan emisi rendah dan pasca Covid-19," tulis mereka.


Asosiasi menilai bangunan gedung istana negara seharusnya merefleksikan kemajuan peradaban/budaya, ekonomi dan komitmen pada tujuan pembangunan berkelanjutan negara Indonesia dalam partisipasinya di dunia global.


Di samping itu, bangunan gedung istana negara seharusnya menjadi contoh bangunan yang secara teknis sudah mencirikan prinsip pembangunan rendah karbon dan cerdas sejak perancangan, konstruksi hingga pemeliharaan gedungnya.


Menurut lima asosiasi tersebut, metafora gedung istana negara di ibu kota baru dengan bentuk burung garuda, terutama yang dilakukan secara harafiah dan keseluruhan dalam dunia perancangan arsitektur era teknologi 4.0 adalah pendekatan yang mulai ditinggalkan. 


Sebab, hal itu menunjukkan ketidakampuan menjawab tantangan dan kebutuhan arsitektur hari ini dan masa mendatang. [Democrazy/tmp]