Sindir Agama Kristen, Ustadz Yahya Waloni: Islam Tak Ada Indomisasi Pemurtadan, Beda dengan 'Sebelah' | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Senin, 05 April 2021

Sindir Agama Kristen, Ustadz Yahya Waloni: Islam Tak Ada Indomisasi Pemurtadan, Beda dengan 'Sebelah'

Sindir Agama Kristen, Ustadz Yahya Waloni: Islam Tak Ada Indomisasi Pemurtadan, Beda dengan 'Sebelah'

Sindir-Agama-Kristen-Ustadz-Yahya-Waloni-Islam-Tak-Ada-Indomisasi-Pemurtadan-Beda-dengan-Sebelah

DEMOCRAZY.ID - Pendakwah Yahya Waloni dalam salah satu ceramahnya menyindir agama Kristen dan membandingkannya dengan agama Islam.

Hal itu ia sampaikan dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube An-Najah TV, seperti dilihat terkini.id pada Senin, 5 April 2021.


Dalam video itu, mulanya Yahya mengaku bahwa ia telah mempelajari Al-Qur'an selama delapan tahun sebelum memutuskan untuk menjadi seorang mualaf.


Yahya juga menjelaskan bahwasanya ia memeluk agama Islam karena keinginannya sendiri tanpa dibujuk oleh siapa pun.


"Saya sudah pelajari Al-Qur'an selama delapan tahun baru saya masuk Islam. Bukan terpengaruh karena orang Islam yang bujuk, gak ada," tutur Yahya Waloni, seperti dikutip pada Senin, 5 April 2021.


Menurut Yahya, dalam Islam sendiri tidak ada yang namanya Indomisasi ataupun Islamisasi.


Ia lantas membandingkan dengan menyebut "sebelah sana" terkait adanya program Indomisasi, kristenisasi, atau pemurtadan yang menurutnya merupakan pendangkalan akidah.


"Di Islam ini gak ada Indomisasi, Islamisasi. Gak ada. Gak ada itu, sorry," ujarnya.


"Beda dengan sebelah sana. Program indomisasi, kristenisasi, permurtadan pendangkalan akidah, allahu akbar!"


Setelah itu, Yahya Waloni kemudian menyampaikan bahwasanya orang-orang yang masuk agama Islam merupakan orang-orang yang hebat.


Hal itu karena menurutnya, orang-orang yang masuk Islam memiliki intelektualitas di atas rata-rata.


"Orang-orang yang masuk Islam itu orang-orang yang hebat. Intelektualitas mereka itu di atas rata rata," pungkas Yahya Waloni. [Democrazy/trk]