Sejumlah Tokoh Agama Hilang dari Kamus Sejarah, Anggota DPD RI: Saya Khawatir Bangsa Ini Dibawa ke Era Abai Sejarah & Sekulerisme | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Kamis, 22 April 2021

Sejumlah Tokoh Agama Hilang dari Kamus Sejarah, Anggota DPD RI: Saya Khawatir Bangsa Ini Dibawa ke Era Abai Sejarah & Sekulerisme

Sejumlah Tokoh Agama Hilang dari Kamus Sejarah, Anggota DPD RI: Saya Khawatir Bangsa Ini Dibawa ke Era Abai Sejarah & Sekulerisme

Sejumlah-Tokoh-Agama-Hilang-dari-Kamus-Sejarah-Anggota-DPD-RI-Saya-Khawatir-Bangsa-Ini-Dibawa-ke-Era-Abai-Sejarah-dan-Sekulerisme

DEMOCRAZY.ID - Anggota DPD RI Abdul Rachman Thaha angkat bicara merespons hilangnya nama tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari dari entry khusus yang disusun secara alfabetis dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I bikinan Kemendikbud. 

Dalam keterangan yang diterima, Kamis (22/4), Rachman Thaha mengaku khawatir bangsa ini kian nyata mau dibawa ke era abai sejarah dan sekulerisme. 


Kecenderungan itu menurut dia telah dipertontonkan secara beruntun dari peniadaan pendidikan agama. 


Lalu, larangan bahkan terhadap sebatas  imbauan bagi siswa sekolah negeri untuk mengenakan busana sesuai ajaran agamanya.


"Juga, pemerasan Pancasila menjadi Ekasila, menunggangi pernyataan Bung Karno yang saya perkirakan lebih untuk menafikkan sila pertama Pancasila. Sekarang, hilangnya nama KH Hashim Asy'aridari kamus sejarah," ucap Rachman. 


Bila hal tersebut dianggap sebagai kebetulan, kata senator kelahiran Palu, 17 September 1979 ini, maka pertanyaannya adalah "mengapa semua kebetulan itu punya benang merah?" 


Spesifik Nadiem Makarim, dalam catatan Rachman, dia punya torehan positif. 


Misalnya terkait critical thinking, creativity, communication, dan collaboration.


"Namun, Nadiem tak punya wawasan filosofi dan sejarah yang meyakinkan dalam cakrawala berpikirnya. Kendali kepemimpinannya juga rapuh," ucap Rachman. 


Hasilnya, kata dia, adalah muatan pendidikan yang mengarah pada materialisme gersang. Kebermaknaan hidup menjadi terkunci pada measurable, numeric productivity.


"Itu, jelas, bukan bangunan pendidikan yang kita idam-idamkan," ucap Anggota DPD RI Dapil Sulawesi Tengah itu.


Rachman pun enggan mengaitkan masalah ini kepada isu reshuffle kabinet. 


Yang paling pokok menurut dia, Presiden Jokowi sesungguhnya ingin menjadikan apa anak-anak didik, guru, dan para pelaku pendidikan di negeri ini melalui tangan Menteri Nadiem. 


"Kalau apa yang Menteri Nadiem lakukan, baik sengaja maupun tidak adalah refleksi alam berpikir presiden terkait dunia pendidikan kita, ini masalah serius. Sangat serius," pungkas Abdul Rachman Thaha. [Democrazy/jpn]