Peran NU Dihapus dari Sejarah, Tebuireng Sampai "Turun Gunung" Bikin Pernyataan Resmi Begini | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Rabu, 21 April 2021

Peran NU Dihapus dari Sejarah, Tebuireng Sampai "Turun Gunung" Bikin Pernyataan Resmi Begini

Peran NU Dihapus dari Sejarah, Tebuireng Sampai "Turun Gunung" Bikin Pernyataan Resmi Begini

Peran-NU-Dihapus-dari-Sejarah-Tebuireng-Sampai-Turun-Gunung-Bikin-Pernyataan-Resmi-Begini

DEMOCRAZY.ID - Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng ikut angkat bicara soal polemik dihapusnya peran organisasi massa berbasis Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I dan Jilid II.

Pihak Ponpes yang didirkan oleh pendiri NU, Hadhrotussyekh KH. Hasyim Asyari tersebut menyampaikan sejumlah pernytaan terkait keberadaan buku Kamus Sejarah Indonesia yang seakan mengkerdilkan perjuangan NU semasa penjajahan.


Adapun dalam pernyataan tersebut, Humas Pesantren Tebuireng, Nur Hidayat mengungkapkan rasa keberatan atas kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya bagian Direktorat Sejarah.


Mengutip laman milik Tebuireng Online, berikut pernyataan dari Ponpes Tebuireng:


Berkenaan dengan beredarnya softcopy Kamus Sejarah Indonesia Jilid I (Nation Formation) dan Jilid II (Nation Building) yang diterbitkan oleh Direktorat Sejarah pada Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pesantren Tebuireng Jombang merasa perlu menyampaikan sikap sebagai berikut:


1. Naskah tersebut sama sekali tidak layak dijadikan rujukan bagi praktisi pendidikan dan pelajar Indonesia, karena banyak berisi materi dan framing sejarah yang secara terstruktur dan sistematis telah menghilangkan peran Nahdlatul Ulama dan para tokoh utama Nahdlatul Ulama, terutama peran Hadlratus Syaikh KH Mohammad Hasyim Asy’ari;


2. Di antara framing sejarah yang secara terstruktur dan sistematis telah menghilangkan peran Nahdlatul Ulama dan para tokoh utama Nahdlatul Ulama sebagaimana dimaksud dalam butir 1 (satu) di atas adalah tidak adanya lema Nahdlatul Ulama dan KH. Hasyim Asy’ari dalam Jilid I dan Jilid II Kamus Sejarah Indonesia tersebut;


3. Jika dicermati lebih dalam, narasi yang dibangun dalam kedua jilid Kamus Sejarah Indonesia tersebut tidak sesuai dengan kenyataan sejarah, karena cenderung mengunggulkan organisasi tertentu dan mendiskreditkan organisasi yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa naskah tersebut tidak layak menjadi rujukan para praktisi pendidikan dan pelajar Indonesia. Di luar itu, banyak kelemahan substansial dan redaksional yang harus dikoreksi dari konten Kamus Sejarah Indonesia tersebut;


4. Sejarah sebuah bangsa sangat penting untuk membangun peradaban di masa yang akan datang. Tidak ada satu bangsa yang menjadi besar tanpa memahami dan mempelajari sejarah leluhurnya. Karena itu, penulisan sejarah yang jujur merupakan tanggung jawab semua elemen bangsa;


5. Berkenaan dengan hal-hal tersebut, Pesantren Tebuireng Jombang menuntut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menarik kembali naskah tersebut dan meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia atas kecerobohan dan kelalaian dalam penulisan kamus sejarah tersebut. Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga menjadi koreksi dan refleksi bagi kita semua.


Fakta Pendiri NU Hilang dari Sejarah


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluruskan viral pendiri NU hilang dari kamus sejarah Indonesia Jilid I. 


Fakta pendiri NU hilang, Kemendikbud menegaskan kamus sejarah Kemendikbud yang dipersoalkan dan diprotes itu tak pernah diterbitkan. 


Kamus sejarah yang dimaksud itu pun dirancang sebelum masa Menteri Nadiem Makarim lho.


Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menegaskan kementerian selalu berefleksi pada sejarah bangsa dan tokoh-tokoh yang ikut membangun Indonesia, termasuk Hadratus Syech Hasyim Asy’ari dalam mengambil kebijakan di bidang pendidikan dan kebudayaan.


Hilmar yang merupakan sejarawan ini mengatakan Kemendikbud mengakui sumbangsih KH Hasyim Asy’ari. 


Buktinya jelas kok, Kemendikbud membangun peringatan pendiri NU dalam bentuk museum dan menerbitkan buku KH Hasyim Asy’ari.


“Museum Islam Indonesia Hasyim Asyari di Jombang didirikan oleh Kemendikbud. Bahkan, dalam rangka 109 tahun Kebangkitan Nasional, Kemendikbud menerbitkan buku KH. Hasyim Asy’ari: Pengabdian Seorang Kyai Untuk Negeri,” ujar Hilman dalam keterangannya dikutip dari laman Kemendikbud, Selasa 20 April 2021.


Meluruskan tudingan dan protes Kemendikbud hendak menghilangkan jejak KH Hasyim Asy’ari Hilmar menjelaskan kamus yang dimaksud belum pernah diterbitkan kok.


“Buku Kamus Sejarah Indonesia Jilid I tidak pernah diterbitkan secara resmi. Dokumen tidak resmi yang sengaja diedarkan di masyarakat oleh kalangan tertentu merupakan salinan lunak (softcopy) naskah yang masih perlu penyempurnaan. Naskah tersebut tidak pernah kami cetak dan edarkan kepada masyarakat,” jelasnya.


Hilmar mengatakan naskah buku tersebut disusun pada 2017, sebelum periode kepemimpinan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim. 


Selama periode kepemimpinan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, kegiatan penyempurnaan belum dilakukan dan belum ada rencana penerbitan naskah tersebut.


Keterlibatan publik menjadi faktor penting yang akan selalu dijaga oleh segenap unsur di lingkungan Kemendikbud.


“Saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa tidak mungkin Kemendikbud mengesampingkan sejarah bangsa ini, apalagi para tokoh dan para penerusnya,” tegas Hilmar. [Democrazy/hps]