Omongan Jokowi Miskinkan Koruptor Dinilai ICW Cuma Gimmick, Netizen: 'Sebelah' Tuh Liat, Dua Menit Sudah Bisa Pengaruhi PBB | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Senin, 19 April 2021

Omongan Jokowi Miskinkan Koruptor Dinilai ICW Cuma Gimmick, Netizen: 'Sebelah' Tuh Liat, Dua Menit Sudah Bisa Pengaruhi PBB

Omongan Jokowi Miskinkan Koruptor Dinilai ICW Cuma Gimmick, Netizen: 'Sebelah' Tuh Liat, Dua Menit Sudah Bisa Pengaruhi PBB

Omongan-Jokowi-Miskinkan-Koruptor-Dinilai-ICW-Cuma-Gimmick-Netizen-Sebelah-Tuh-Liat-Dua-Menit-Sudah-Bisa-Pengaruhi-PBB

DEMOCRAZY.ID - Peneliti ICW, Wana, menilai permintaan Presiden Joko Widodo alias Jokowi agar penegak hukum memiskinkan koruptor hanyalah gimmick karena menurutnya, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik.

Ia menuding bahwa hal itu dilakukan Presiden Jokowi yang katanya demi penyelamatan kerugian negara dari pelaku korupsi hanya gimmick alias trik untuk menarik perhatian semata.


"Fakta di lapangan itu ternyata hanya sedikit kasus yang ditangani menggunakan pencucian uang," ujar Wana dalam Launching Laporan Tren Penindakan Korupsi Tahun 2020 yang disiarkan secara live melalui kanal Youtube Sahabat ICW pada Minggu kemarin, 18 April 2021.


Berdasarkan data penindakan korupsi yang ICW himpun, dari 442 kasus korupsi yang ditindak hingga tingkat penyidikan dan ada penetapan tersangka pada 2020, sebanyak 394 kasus korupsi dijerat dengan pasal kerugian keuangan negara, 22 kasus pemerasan, 20 kasus suap menyuap, dan 3 kasus gratifikasi.


ICW menemukan bahwa hanya 3 kasus korupsi yang dijerat dengan pasal pencucian uang.


Kasus tersebut adalah korupsi Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) asuransi Jiwasraya, kasus Danareksa Sekuritas, dan kasus Jaksa Pinangki.


Dalam penindakan korupsi, penegak hukum cenderung menggunakan pasal 2 dan 3 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.


Pasal tersebut berkaitan dengan kerugian keuangan negara dan tidak fokus merampas aset koruptor untuk memiskinkan mereka.


"Ini kontra produktif dengan visi presiden mengenai perampasan aset atau pemiskinan koruptor," sambung Wana. 


Di sisi lain, dalam aspek kesiapan penyitaan aset, Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset tidak masuk dalam prioritas program legislasi nasional (prolegnas).


Oleh karena itu, ICW merekomendasikan agar Pemerintah segera memprioritaskan perampasan aset.


Hal tersebut dilakukan agar kiranya gagasan mengenai pemiskinan koruptor dan pengembalian kerugian negara bisa lekas diwujudkan.


Nah, menanggapi hal tersebut, seorang netizen dengan akun Baiq Marfuatun lantas membandingkan Presiden Jokowi dengan Anies Baswedan.


"Sebelah sudah bisa pengaruhi sekjen PBB pak dlm 2 menit. Lah bapak kok gimmick Mulu. Cem mana ini," ujarnya, seperti dikutip pada Senin, 19 April 2021, via Twitter. 


Meskipun tak menyebut nama Anies Baswedan secara gamblang, tetapi dapat dipastikan komentarnya tersebut memaksudkan Anies lantaran baru-baru ini Gubernur DKI Jakarta itu disebut-sebut berhasil "menghipnotis" sekjen PBB.


Hal itu dikarenakan Antonio Gutteres langsung mengiyakan usulan Anies mengenai pencegahan dampak perubahan iklim yang melanda sejumlah kota di dunia dalam diskusi virtual bertajuk 'Dialogue Between C40 Mayors and UN Secretary General-Advancing Carbon Neutrality and Resilent Recovery for Cities and Nations'.


Namun, rupanya komentar netizen tersebut justru "diserang" dengan beberapa netizen lainnya yang tampak tak setuju.


"Itu lebih parah. Naturalisasi sungai, mengalirkan air ke bumi, rumah DP 0%, pembangunan trotoar yg bolak-balik krn salah, anggaran beribu kali dr yg seharusnya, kesembrautan jalan krn kebijakan yg nyeleneh. Pembayaran alat pemadam yg berlebih millyaradan Apa itu yg mau dipuja?" tanggap akun Sahat1062. 


"Maksudnya Si Om NATO (No Action Talk Only) itu? .. Wkwk .. Emang jago doi kalo ngomong gw akuin .. Realisasi? MINUS!!" timpal akun IriawanRikky.


"yah bisanya cuma itu aja," imbuh akun Emfajar.  [Democrazy/trk]