MUI Sebut Penangkapan Munarman Tanda "Islamofobia", Refly Harun: Jangan Lupa, Terorisme Bisa Datang dari Negara Itu Sendiri! | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Jumat, 30 April 2021

MUI Sebut Penangkapan Munarman Tanda "Islamofobia", Refly Harun: Jangan Lupa, Terorisme Bisa Datang dari Negara Itu Sendiri!

MUI Sebut Penangkapan Munarman Tanda "Islamofobia", Refly Harun: Jangan Lupa, Terorisme Bisa Datang dari Negara Itu Sendiri!

MUI-Sebut-Penangkapan-Munarman-Tanda-Islamofobia-Refly-Harun-Jangan-Lupa-Terorisme-Bisa-Datang-dari-Negara-Itu-Sendiri

DEMOCRAZY.ID - Wantim MUI, KH Muhyiddin Junaidi menyampaikan bahwa penangkapan Munarman dengan persenjataan lengkap dinilainya tidak mendidik dan menunjukkan tanda-tanda Islamofobia.

“Penangkapan Bapak Munarman oleh tim Densus 88 dengan persenjataan lengkap seperti menghadapi kelompok bersenjata di bulan Ramadhan,” kata Muhyiddin.


“Itu tidak mendidik, kontra produktif, trial by force, dan sarat makna Islamofobia,” katanya, menyambungkan.


Menanggapi hal tersebut, Refly Harun menegaskan bahwa terorisme ternyata tidak hanya datang dari kelompok sosial tapi bisa juga dari negara.


"Kita memang harus menumpas terorisme, tetapi jangan lupa bahwa terorisme itu tidak hanya datangnya dari society dan non state actors. Tapi bisa juga dari negara, nah ini yang kadang-kadang kita tidak sadar," ucapnya.


Dia juga menyatakan bahwa penangkapan Munarman itu adalah salah satu bukti bentuk Islamofobia karena dianggap berlebihan.


"Kalaupun tuduhannya terlibat terorisme, tapi secara fakta Munarman bukanlah orang yang berbahaya dalam kondisi ketika dia ditangkap, dia tidak sedang bersenjata, tidak sedang bersama orang-orang bersenjata," ujarnya.


"Sehingga penangkapannya yang terlalu berlebihan itu rasanya aneh," kata Refly Harun menambahkan dikutip dari kanal YouTube resminya, Jumat, 30 April 2021.


Refly Harun menyayangkan sikap kepolisian yang langsung menangkap Munarman, padahal menurutnya tidak harus seperti itu.


"Kenapa tidak dipanggil terlebih dahulu untuk melakukan klarifikasi mengenai dugaan bahwa dia terlibat ini itu dan lain sebagainya," katanya.


Dia pun kemudian menjelaskan mengapa terorisme bisa datang dari negara.


"Jadi yang menyebarkan ketakutan bisa jadi negara, tidak hanya kelompok society," ungkapnya.


Dia mengakui untuk saat ini, dirinya justru khawatir dengan terorisme yang berasal dari negara.


"Saya terus terang dalam kondisi seperti saat ini, paling khawatir sesungguhnya dengan tangan kekuasaan negara atau agen-agen yang punya link kepada negara yang dengan sengaja misalnya menggiring orang atau seseorang agar orang tersebut ditangkap dikriminalkan dan lain sebagainya," tuturnya.


Walaupun yang dilakukannya, sambung Refly, hanyalah menggunakan hak warga negara untuk berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat baik secara lisan maupun tulisan.


Salah satu contoh kasusnya, menurutnya, adalah kasus yang menimpa Syahganda Nainggolan yang semula dituntut enam tahun oleh JPU. Itu tentu menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat.


"Toh faktanya adalah tetap saja ditangkap dan diadili, termasuk Syahganda Nainggolan yang dituntut luar biasa enam tahun oleh JPU tapi divonis 10 bulan, disparitas yang terlalu tinggi," ungkapnya.


"Mungkin saja, secara tidak sadar bahwa pendukung-pendukung pemerintahan Presiden Jokowi itu menganggap tidak benar ada Islamofobia di dalam ring pemerintahan atau kekuasaan, hanya segelintir orang," sambungnya.


Tetapi cara-cara seperti ini, kata Refly, justru akan membesarkan dan membenarkan adanya Islamofobia di Indonesia.


"Apalagi misalnya gaya atau tindakan pendukung Presiden Jokowi yang jelas-jelas seperti berpesta dengan penangkapan Munarman ini," katanya.


"Saya lihat misalnya sebuah kanal YouTube mengirimkan karangan bunga ke Mabes Polri, mengucapkan selamat kepada polisi. Saya ingat ucapan-ucapan selamat itu pula yang memenuhi Polda Metro Jaya ketika menembak mati enam laskar FPI," kata Refly, menambahkan.


Hal tersebut membuat Refly Harun menganggap, apakah bangsa Indonesia begitu senangnya melihat ada orang yang dibunuh dan ditangkap.


"Saya jadi bertanya-tanya apakah begini bangsa kita, begitu senangnya kalau ada orang yang dibunuh, kalau ada orang yang ditangkap. Walaupun orang yang dibunuh dan ditangkap tersebut belum tentu bersalah," kata Refly Harun. [Democrazy/pkry]