KH Hasyim Asyari Hilang dari Kamus Sejarah, Pesantren Tebuireng: Kami Tunggu Permintaan Maaf Kemendikbud! | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Kamis, 22 April 2021

KH Hasyim Asyari Hilang dari Kamus Sejarah, Pesantren Tebuireng: Kami Tunggu Permintaan Maaf Kemendikbud!

KH Hasyim Asyari Hilang dari Kamus Sejarah, Pesantren Tebuireng: Kami Tunggu Permintaan Maaf Kemendikbud!

KH-Hasyim-Asyari-Hilang-dari-Kamus-Sejarah-Pesantren-Tebuireng-Kami-Tunggu-Permintaan-Maaf-Kemendikbud

DEMOCRAZY.ID - Pesantren Tebuireng, Jombang ikut mengeluarkan memberi sikap menyusul hilangnya nama KH Hasyim Asyari dari draf kamus sejarah. 

Diketahui kamus tersebut merupakan buatan Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).  


"Naskah draf tersebut tidak layak dijadikan rujukan, sebab banyak berisi materi dan framing sejarah secara terstruktur dan sistematis dengan menghilangkan peran Nahdlatul Ulama (NU) serta para tokoh, terutama peran KH Hasyim Asy'ari," demikian dikutip dari laman resmi Pesantren Tebuireng pada Kamis (22/4/2021).


Sementara itu, dalam draf tersebut juga tidak adanya lema atau kata KH Hasyim Asyari. 


Hal itu dibuktikan pada jilid I maupun jilid II kamus sejarah tersebut tidak ada tokoh Nahdliyin tersebut. 


Pesantren Tebuireng mengatakan, narasi yang dibangun dalam kedua jilid kamus tersebut tidak sesuai dengan kenyataan sejarah. 


Oleh sebab itu, naskah tersebut dianggap tidak layak jadi rujukan para praktisi pendidikan dan pelajar Indonesia. 


"Kamus ini cenderung mengunggulkan organisasi tertentu dan mendiskreditkan organisasi lain. Selain itu banyak kelemahan substansial dan redaksional yang harus dikoreksi dari konten kamus tersebut," jelasnya. 


Pesantren Tebuireng menuturkan sejarah sebuah bangsa sangat penting guna membangun peradaban di masa mendatang. 


Sebab, tidak ada suatu bangsa yang menjadi besar tanpa memahami dan mempelajari sejarah leluhurnya.  


"Penulisan sejarah yang jujur merupakan tanggung jawab semua elemen bangsa," tambah pihak pesantren.


Pesantren Tebuireng menuntut Kemendikbud untuk menarik kembali naskah tersebut. 


Selanjutnya, meminta Kemendikbud meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia.  


"Kemendikbud meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia atas kecerobohan dan kelalaian dalam penulisan kamus tersebut,” pungkasnya. [Democrazy/okz]