Jokowi dan Prabowo Kompak Hadiri Nikahan Atta-Aurel, Pengamat: Zaman Edan Industri Pencitraan! | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Senin, 05 April 2021

Jokowi dan Prabowo Kompak Hadiri Nikahan Atta-Aurel, Pengamat: Zaman Edan Industri Pencitraan!

 Jokowi dan Prabowo Kompak Hadiri Nikahan Atta-Aurel, Pengamat: Zaman Edan Industri Pencitraan!

Jokowi-dan-Prabowo-Kompak-Hadiri-Nikahan-Atta-Aurel-Pengamat-Zaman-Edan-Industri-Pencitraan

DEMOCRAZY.ID - Kehadiran Presiden Jokowi, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto hingga Ketua MPR Bambang Soesatyo dalam akad pernikahan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah mendapat banyak sorotan.

Tidak sedikit masyarakat yang mempertanyakan mengapa kemudian pejabat-pejabat tersebut bersedia hadir.


Kesediaan pejabat untuk hadir ke pernikahan Atta-Aurel dinilai tidak terlepas dari daya tarik Atta sebagai salah satu anak muda yang memiliki pengaruh besar bagi kalangan milenial.


Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin menilai, kehadiran Jokowi, Prabowo dan Bamsoet di acara sakral pasangan Atta-Aurel bisa menjadi panggung pencitraan.


Menurut Ujang para pejabat mengharapkan ada timbal balik atas kunjungan mereka, terhadap citra diri di kalangan milenial.


"Mengapa mereka hadir? Karena Atta dan Aurel dianggap bisa jadi influencer bagi mereka, secara politik seperti itu. Ini kan zamannya sudah edan dan zaman industri pencitraan. Siapa yang punya pendukung banyak di medsos dikejar dan didatangi, agar secara politik nanti ada imbal baliknya," kata Ujang, Senin (5/4/2021).


Ujang mengatakan ada keinginan dari para pejabat untuk bisa dekat dengan kalangan milenial, terlebih seperti sosok Atta yang memiliki banyak pengikut.


Imbas dari kedekatan dengan Atta, dikatakan Ujang bisa membuat para pejabat setidaknya merasa aman karena bisa merangkul milenial.


Pada akhirnya pejabat berharap kebijakan-kebijakan mereka nantinya dapat diterima kalangan milenial, karena sudah memiliki kedekatan tersebut.


"Bisa seperti itu. Para pejabat itu ingin dekat dengan milenial via Atta, ingin baik di mata milenial via Atta. Karena jika bisa menggandeng Atta, paling tidak pejabat-pejabat tersebut aman, tak terlalu banyak di-bully milenial karena kebijakan-kebijakannya yang salah," kata Ujang.


"Dan sekaligus juga untuk mengangkat citra mereka. Yang seolah-olah pro milenial," pungkas Ujang. [Democrazy/sra]