Eks Menag Lukman Hakim: Terorisme Respons dari "Ketidakadilan" yang Ekstrem! | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Minggu, 04 April 2021

Eks Menag Lukman Hakim: Terorisme Respons dari "Ketidakadilan" yang Ekstrem!

Eks Menag Lukman Hakim: Terorisme Respons dari "Ketidakadilan" yang Ekstrem!

Eks-Menag-Lukman-Hakim-Terorisme-Respons-dari-Ketidakadilan-yang-Ekstrem

DEMOCRAZY.ID - Mantan Menteri Agama periode 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa terorisme adalah bentuk respons dari adanya ketidakadilan. 

Ketidakadilan yang dimaksud adalah di bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, dan budaya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.


"Sehingga lalu sebagian orang tidak sabar melihat ketidakadilan itu lalu menanggapinya dengan jalan pintas yang bentuknya melampaui batas, berlebih-lebihan atau yang dikenal dengan ekstrem," kata Lukman Hakim dalam webinar Weekend Talk yang digelar Public Virtue Research Institute, Minggu (4/4/2021).


Lukman juga mengatakan bahwa terorisme merupakan bentuk respons dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama. 


Ia menilai ini adalah wujud ekstremitas cara pandang, sikap, dan praktek keberagamaan sebagian orang.


Bentuk respons ekstrem itulah yang ia lihat peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan penyerangan Mabes Polri beberapa waktu lalu. 


Ia juga menggarisbawahi tiga hal yang harus dicermati dari munculnya terorisme belakangan ini.


"Pertama dalam pandangan saya mulai kita rasakan berkembangnya cara pandang sikap keagamaan dan praktek beragama yang melampaui batas, yang berlebih-lebihan yang justru mengurangi atau bahkan meniadakan harkat kemanusiaan dan pada akhirnya nanti mengingkari kedamaian, sesuatu yang menjadi inti pokok dari tujuan diturunkannya agama," jelasnya.


Kedua, kian berkembangnya tafsir keagamaan yang tidak berdasar dan mengklaim kebenaran dirinya sendiri.


"Mulai muncul tafsir paham-paham keagamaan yang tidak mengikuti bagaimana menafsirkan teks-teks keagamaan sehingga kemudian lahir tafsir keagamaan yang tidak berdasar secara keilmuan. Bahkan klaim kebenaran itu menjadi marak di mana-mana dan pada ujungnya memaksakan kehendak untuk seragam dalam penafsiran itu," lanjutnya.


Ketiga, munculnya pemahaman-pemahaman terkait dengan paham dan amalan keagamaan yang memecah dan mengoyak kebangsaan.


"Saat ini kita rasakan muncul pemahaman bahkan pengamalan keagamaan yang justru mengoyak rajut kebangsaan kita sehingga kemudian itu menjadi faktor-faktor yang langsung maupun tidak langsung melahirkan tindakan terorisme," tandasnya. [Democrazy/idz]