Eggi Sudjana: Penangkapan Munarman Mengingatkan Peristiwa Cakrabirawa Datangi Jenderal Ahmad Yani | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Jumat, 30 April 2021

Eggi Sudjana: Penangkapan Munarman Mengingatkan Peristiwa Cakrabirawa Datangi Jenderal Ahmad Yani

Eggi Sudjana: Penangkapan Munarman Mengingatkan Peristiwa Cakrabirawa Datangi Jenderal Ahmad Yani

Eggi-Sudjana-Penangkapan-Munarman-Mengingatkan-Peristiwa-Cakrabirawa-Datangi-Jenderal-Ahmad-Yani

DEMOCRAZY.ID - Mantan Sekretaris Umum (Sekum) DPP FPI yang ditangkap Densus 88 dan tidak diberi kesempatan membawa sandal mengingatkan pasukan Cakrabirawa mendatangi Jenderal Ahmad Yani.

“Penangkapan Munarman mengingatkan cerita Cakrabirwa mendatangi Jenderal Ahmad Yani,” kata pengacara senior Eggi Sudjana dalam acara webinar, Jumat (30/4/2021).


Eggi Sudjana mengatakan, kasus yang menimpa Munarman sangat kental politisnya. 


“Ini peristiwa politik dikemas secara hukum, apakah untuk mendegradasi Habib Rizieq Shihab (HRS) supaya terstigma teroris,” papar Eggi Sudjana.


Kata Eggi Sudjana, secara legalitas Munarman tidak bisa dipidana yang dituding terlibat terorisme dengan data tahun 2015 dianggap menghadiri baiat ISIS.


“Kejadian 2015, dianggap hadir baiat itu menjadi sangkaan, pertanyaaan seriusnya berdasarkan asas legalitas, tidak bisa dipidana, mana hukumnya, tahun yang lampau tiba-tiba ditangkap 2021, itu tidak ada hukum yang mengaturnya. Dalam hukumnya, tidak ada kasus yang sudah lama tiba-tiba diproses tanpa ada penyelidikan sebelumnya,” papar Eggi.


Memunculkan peristiwa lama, kata Eggi, Munarman untuk menjadi saja tidak bisa apalagi tersangka. 


“Pertanyaannnya, Kenapa 2015 Munarman tidak langsung ditangkap. Kalau tidak jelas, waktu yang sudah lama, bias informasi dan bisa sekedar karangan-karangan atau sifatnya justifikasi,” jelasnya.


Anak Jenderal A. Yani Ceritakan Kengerian Tragedi Bapaknya Dibunuh Pada Peristiwa G 30 S/PKI


Eggi Sudjana: Penangkapan Munarman Mengingatkan Peristiwa Cakrabirawa Datangi Jenderal Ahmad Yani

Pada tanggal 30 September 1965, terjadi peristiwa berdarah yang tak bisa dilupakan dalam sejarah Indonesia.


Pada hari itu, Enam Perwira tinggi beserta satu perwira TNI Angkatan Darat diculik dan dibunuh.


Peristiwa penculikan dan pembunuhan ini didalangi oleh DN Aidit, Ketua Partai Komunis Indonesia. Salah satu Jenderal yang terbunuh adalah Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani.


Anak Jenderal Ahmad Yani, Irawan Sura Eddy A. Yani menceritakan detik-detik tragedi berdarah ini sebelum Ahmad Yani ditembak di rumahnya. 


Eggi Sudjana: Penangkapan Munarman Mengingatkan Peristiwa Cakrabirawa Datangi Jenderal Ahmad Yani

Pada saat itu, istri dari Jenderal Ahmad Yani sedang tidak berada di rumah. Irawan bersama saudara-saudaranya sedang tertidur di rumah, begitupun dengan Jenderal Ahmad Yani sebelum adanya penembakan terhadap Jenderal Ahmad Yani. 


Pada waktu jam 4 pagi, Irawan sedang mencari ibunya tetapi ia malah melihat banyak sekali pasukan Cakrabirawa yang ia pikir adalah terjadi pergantian penjagaan. 


"Jadi kalau diingat ingat itu pada waktu itu saya terbangun mencari Ibu. Karena pada malam itu beliau ada tirakat karena besoknya mau ulang tahun yang mau dirayakan juga rencananya. Jadi ibu jam 10 malem itu sudah berangkat ke rumah dinas di taman suropati. Kemudian jam ssekitar jam 4 saya mencari ibu keluar ke ruangan depan. Disitu saya ditemani mbok milah sambil menunggu itu kok saya melihat banyak sekali ini, apa tentara cakrabirawa yang saya pikir pada waktu itu pergantian penjagaan."


Tak lama kemudian, pasukan ini masuk ke dalam rumah serta menanyakan keberadaan Jenderal Ahmad Yani. 


"Tapi ternyata tidak lama kemudian mereka masuk ke dalam menanyakan apakah bapak ada. karena merekabilang bapak itu dipanggil Presiden. jadi tolong dipanggilkan." Irawan menceritakannya.


Pasukan Cakrabirawa mengatakan bahwa Jenderal Ahmad Yani sedang dipanggil presiden. 


Eggi Sudjana: Penangkapan Munarman Mengingatkan Peristiwa Cakrabirawa Datangi Jenderal Ahmad Yani

Maka Irawan kemudian memanggil Jenderal Ahmad Yani dengan membangunkannya ketika Jenderal Ahmad Yani masih tertidur pulas.


Jenderal Ahmad Yani bertanya kepada putranya Irawan dengan Bahasa Jawa "Ono opo to, cakrabirawa jam sak mene teko nang omah (ke rumah maksudnya)". 


Tak lama setelah itu, Jenderal Ahmad Yani menemui pasukan Cakrabirawa di ruang belakang paviliun.


Untung Mufreni A. Yani, yang juga putra dari Jenderal Ahmad Yani melanjutkan cerita detik-detik ayahnya tertembak mengatakan bahwa pada waktu itu dengan sangat kasarnya Cakrabirawa berkata kepada Jenderal Ahmad Yani bahwa dirinya dipanggil presiden saat itu juga. 


Saat itu pula, terjadi pertengkaran antara Jenderal Ahmad Yani dengan pasukan Cakrabirawa yang berujung pada Jenderal Ahmad Yani memukul salah satu prajurit tersebut dengan senjatanya, lantas kemudian mengembalikan senjata tersebut kepada prajurit Cakrabirawa. 


"Jadi waktu bapak di belakang itu saya sendiri berdiri di dalam. Mas edi ada di belakang. Dengan sangat kasarnya cakrabirawa itu bilang bapak dipanggil presiden dan sekarang juga. Bapak saya tuh pakai piyama. kan tidak mungkin menghadap presiden pakai piyama. sehingga terjadi pertengkaran antara seorang prajurit dengan pemimpinnya. Karena marah, bapak saya memukul salah satu prajurit cakrabirawa itu. Nah setelah terjatuh, senjatanya dipegang terus dikasihkan lagi ke cakrabirawa itu, bapak masuk ke pintu kaca itu".


Eggi Sudjana: Penangkapan Munarman Mengingatkan Peristiwa Cakrabirawa Datangi Jenderal Ahmad Yani

Tak lama setelah itu, Jenderal Ahmad Yani masuk ke dalam rumah dan menutup pintu kaca. 


Tak lama terdengar suara rentetan tembakan, Jenderal Ahmad Yani terjatuh. 


Putra Jenderal Ahmad Yani menceritakan bahwa mereka mengikuti ayahnya yang diseret hingga keluar rumah. 


Mereka hanya mengikuti sampai pintu belakang rumah saja, pada saat itu sudah dihadang oleh pasukan Cakrabirawa yang menodongkan senjata dan berkata bahwa siapapun yang keluar akan ditembaknya. 


Kejadian ini menyisakan pilu yang mendalam bagi keluarga Jenderal Ahmad Yani yang merupakan saksi dari kejadian itu.


Untung Mufreni juga berpesan bahwa tragedi tersebut merupakan tragedi berdarah yang harus tetap dikenang agar tak terjadi kembali di kemudian hari. [Democrazy/suaranas]