Terlalu Lambat Lakukan Pengusutan Kasus Penembakan 6 Laskar FPI, IPW: Polri Jangan Grogi Dong! | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Rabu, 24 Maret 2021

Terlalu Lambat Lakukan Pengusutan Kasus Penembakan 6 Laskar FPI, IPW: Polri Jangan Grogi Dong!

Terlalu Lambat Lakukan Pengusutan Kasus Penembakan 6 Laskar FPI, IPW: Polri Jangan Grogi Dong!

Terlalu-Lambat-Lakukan-Pengusutan-Kasus-Penembakan-6-Laskar-FPI-IPW-Polri-Jangan-Grogi-Dong

DEMOCRAZY.ID - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane, menilai langkah kepolisian dalam mengusut kasus unlawful killing terhadap empat anggota Laskar FPI yang dilakukan anggotanya, cenderung masih lambat. 

Neta melihat Polri seakan grogi dalam melakukan penyidikan.


"Bagi IPW sikap lambat itu tak lain akibat penyidik Polri grogi dalam mengusutnya. Padahal penyidik tak perlu grogi asalkan mereka mengikuti apa yang sudah menjadi arahan Komnas HAM," kata Neta saat dihubungi, Rabu, 24 Maret 2021.


Neta mengapresiasi langkah Polri yang belakangan telah menetapkan tiga anggotanya sebagai tersangka unlawful killing yang terjadi di KM 50 Tol Cikampek tersebut. 


Ia menilai Polri menunjukan progres yang positif bahwa hukum mulai berjalan di rel yang benar.


Neta mengatakan IPW juga mengapresiasi Kapolri dan Kabareskrim yang ia nilai sudah menunjukkan keseriusan menuntaskan kasus penembakan ini. 


Meski begitu, ia meminta mereka masih perlu mendorong penyidik bekerja cepat dan transparan untuk menuntaskannya.


"Apalagi Komnas HAM sudah menegaskan bahwa dalam kasus ini terjadi pelanggaran HAM dan ini yang perlu dituntaskan pada titik mana pelanggaran ham itu terjadi," kata Neta.


Atas dasar ini, Neta melihat sebenarnya Polri sejauh ini sudah cukup serius untuk menuntaskan kasus penembakan laskar FPI itu. 


Meski begitu, ia meminta Polri lebih menunjukan komitmen mereka. 


Apalagi, sorotan tajam diarahkan ke penyidik Polri yang kerap dikhawatirkan tidak netral dalam menyidik kasus ini. 


"Sorotan ini tak lain disebabkan masih adanya kecurigaan sebagian masyarakat terhadap ketidaknetralan penyidik Polri dalam mengusut koleganya. Sehingga muncul anekdot, apakah mungkin jeruk makan jeruk," kata Neta. [Democrazy/tmp]