Ali Imron Sebut Teroris Suka Kerusuhan: Paling Radikal Anggap Non-Muslim Kafir, Boleh Diserang dan Dibunuh | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Senin, 29 Maret 2021

Ali Imron Sebut Teroris Suka Kerusuhan: Paling Radikal Anggap Non-Muslim Kafir, Boleh Diserang dan Dibunuh

Ali Imron Sebut Teroris Suka Kerusuhan: Paling Radikal Anggap Non-Muslim Kafir, Boleh Diserang dan Dibunuh

Ali-Imron-Sebut-Teroris-Suka-Kerusuhan-Paling-Radikal-Anggap-Non-Muslim-Kafir-Boleh-Diserang-dan-Dibunuh

DEMOCRAZY.ID - Terpidana kasus Bom Bali I, yakni Ali Imron, mengatakan bahwasanya teroris itu memang suka dengan kerusuhan.

Oleh karenanya, sebagai mantan teroris, ia lalu mengimbau agar tidak memberi ruang terhadap teroris dan radikalis.


Lebih lanjut, Ali Imron lantas menjabarkan alasan terjadinya terorisme di Indonesia yang ingin membentuk negara Islam.


Pernyataan itu disampaikan olehnya dalam acara Indonesian Lawyers Club TV One edisi "Misteri Penusuk Wiranto".


Rekaman itu ditayangkan lagi beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada 30 November 2020 di kanal Youtube ILC ketika ramai peristiwa terorisme di Sigi, Sulawesi Tengah, yang didalangi oleh Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora.


Bagi Ali Imron sendiri, teroris itu—baik Al-Qaeda maupun ISIS, memiliki dua tujuan yang sama.


Pertama, mereka ingin mendirikan negara Islam. Lalu kedua, mereka menjalankan Jihad Fi Sabilillah.


"Negara Islam dan khilafah ada hubungannya, tidak mungkin bisa mendirikan negara Islam tanpa adanya jalan Jihad (perang)," tuturnya kala itu, pada Senin, 29 Maret 2021.


"Teroris paling radikal menganggap pemimpin muslim statusnya tauhid. Sedangkan non muslim statusnya kafir, semuanya boleh diperangi dan diserang," lanjutnya. 


Hal itu pulalah yang mendasari Ali Imron melakukan pengeboman Kedubes Filipina di Indonesia.


Menurutnya, karena Indonesia ia anggap bukanlah negara Islam, maka itu sah dilakukan.


Pun demikian ketika Ali Imron melancarkan pemboman gereja saat malam Natal di beberapa kota di Indonesia yang ditimbulkan oleh nuansa SARA di Ambon dan Poso.


Begitu pula dengan Bom Bali I yang merupakan program oknum Jamaah Islamiyah pimpinan Ali Ghufron alias Mukhlas bersama Ali Imron.


Tujuannya saat itu, yaitu mereka hendak membalas serangan Amerika terhadap Afghanistan pascatragedi 9/11 dengan menargetkan turis asing yang berlibur di Bali.


Dalam video, Ali Imron lantas menyampaikan pesan kepada masyarakat agar jangan sampai tambah "pecah". 


Menurutnya, cukup urusan pemilu saja yang sudah pecah.


Lalu di akhir video pernyataan, Ali Imron turut menanyakan pertanyaan terhadap Presiden ILC Karni Ilyas terkait kapan dirinya akan dibebaskan dan tak dianggap sebagai antek pemerintah. [Democrazy/trkn]