-->

Breaking

logo

Jumat, 05 Februari 2021

Yahya Staquf: Gus Dur Layak Jadi Wali ke-10

Yahya Staquf: Gus Dur Layak Jadi Wali ke-10

Yahya-Staquf-Gus-Dur-Layak-Jadi-Wali-Ke-10

DEMOCRAZY.ID - ABDURRAHMAN Wahid atau Gus Dur bagi banyak warga Nahdliyyin dianggap sebagai ‘wali’. Gaya hidup, pernyataan, dan tindakan Gus Dur sehari-hari nyleneh , dan sulit dipahami.

Ketika meninggal namanya pun semakin harum. Mantan juru bicara Gus Dur, Yahya Staquf, melihat kecintaan umat yang begitu besar pada Gus Dur. 


Terlihat dari ribuan peziarah yang mengunjungi makam Gus Dur.


"Orang-orang yang berziarah ke makam Walisongo pasti menyempatkan untuk berziarah juga ke makam Gus Dur di Jombang. Sekarang terbalik ke makam Gus Dur dulu baru pulangnya ziarah ke wali yang lain,” kata Yahya ketika ditemui beberapa waktu yang lalu.


Ia mengungkapkan, peziarah yang datang ke makam Gus Dur banyak yang menangis. 


Mereka bukan hanya warga biasa. Banyak juga orang berpendidikan.


“Banyak yang menangis itu bukan orang biasa, tetapi ada yang bergelar doktor,” ucapnya.


Setiap hari banyak pelayat datang, tidak hanya sekadar melayat dan membacakan tahlil buat almarhum, tetapi ada juga mengambil bunga-bunga dan tanah yang ada di pemakaman Gus Dur, yang mereka percayai mengandung berkah.


Yahya mengungkapkan, selama ini masyarakat Jawa mengenal Wali Sanga atau wali sembilan di tanah Jawa. 


Ia mengusulkan almarhum mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dinobatkan sebagai wali ke-10.


Menurutnya, satu di antara kelebihan Gus Dur adalah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan bidang apa saja, padahal Gus Dur tidak pernah mempelajarinya. 


Sehingga orang menganggap Gus Dur mempunyai ilmu Ladunni, yaitu ilmu yang langsung diajarkan oleh Allah SWT.


“Kata-kata yang diucapkan Gus Dur juga sering menjadi kenyataan. Gus Dur juga menguasai 7 bahasa dunia," ujarnya.


Selain itu kekuatan fisik Gus Dur juga luar biasa, padahal telah kena stroke. Serangan stroke Gus Dur dialami suatu hari di kamar mandi kantor PB NU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) di Kramat Raya, Jakarta. Pintu kamar mandi itu tak kunjung terbuka. Kamar mandi itu terkunci dari dalam dan Gus Dur berada di dalamnya.


Orang-orang menggedor-gedor pintu, tak ada sahutan. Ketika akhirnya pintu itu dijebol, orang mendapati Gus Dur tergeletak bersimbah darah muntahannya.


“Itulah stroke yang pertama dan paling dahsyat yang sungguh-sungguh merenggut kedigdayaan fisiknya,” tuturnya. [Democrazy/okz]