-->

Breaking

logo

Kamis, 18 Februari 2021

Pesan Menohok Ketua MUI Terkait Ceramah Ustaz Yahya Waloni

Pesan Menohok Ketua MUI Terkait Ceramah Ustaz Yahya Waloni

Pesan-Menohok-Ketua-MUI-Terkait-Ceramah-Ustaz-Yahya-Waloni

DEMOCRAZY.ID - Ustaz Yahya Waloni akhir-akhir ini banyak disoroti sejumlah kalangan lantaran isi ceramahnya yang kontroversial. 

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis akhirnya menyikapi terkait polemik Yahya Waloni.


Cholil Nafis menilai bahwa seharusnya seorang mualaf, harus belajar lagi ilmu agama, dan jangan terburu-buru menjadi ustaz.


“Mualaf harusnya belajar dulu jangan buru-buru jadi ustaz. Masyarakat pun hendaknya cari penceramah yang bisa ngaji dan berilmu. Ini perlu dibina dibimbing, kecuali kalo tak mau ya,” tulis Cholil di akun Twitternya, Kamis (18/2/2021).


Tak hanya itu, Cholil Nafis juga mengimbau masyarakat untuk mencari penceramah agama yang bisa mengaji dan memiliki ilmu. 


Cholil menyampaikan hal tersebut saat menanggapi warganet yang memberikannya video Yahya Waloni ceramah soal menabrak anjing.


Seperti diketahui, beberapa waktu belakangan ceramah Yahya Waloni menuai polemik, salah satunya saat ia mengaku dengan sengaja menabrak seekor anjing hingga kakinya pincang lantaran hewan itu dianggapnya najis.


Lebih lanjut, Cholil juga menulis bahwa seorang mualaf itu tidak boleh menjelekkan agama sebelumnya, serta tak boleh membenci makhluk Tuhan, termasuk anjing.


“Mualaf itu tak boleh menjelekkan agama sebelumnya, tak boleh membenci makhluk Allah meskipun anjing,” kata Cholil.


Sebelumnya, Cholil Nafis juga membuat cuitan yang mengomentari soal mualaf. 


Ia menyebut, orang yang baru masuk Islam belum punya ilmu banyak soal agama Islam.


Dalam sebuah video yang ia juga bagikan di cuitan itu, Cholil menjelaskan bahwa seseorang yang bercerita soal prosesnya menjadi mualaf itu sah-sah saja. 


Tapi seorang mualaf jangan menyampaikan sesuatu yang ia tidak ketahui pasti kebenarannya.


“Karena dia (mualaf) harus mengetahui kerangka di (ajaran) Islam, maka dia perlu belajar. Persoalan mengapa dia mendapat hidayah, menceritakan, lalu mengajak orang sadar berislam itu boleh, dianjurkan bahkan untuk kita mendakwah pada orang lain,” kata Cholil melansir Islamina Channel.


“Tetapi dakwah kita tetap dengan yang sesuai yang kita ketahui pasti kebenarannya, bukan menyampaikan sesuatu yang tidak pasti kebenarannya,” lanjut dia.


Cholil Nafis berpesan kadang saat ini masyarakat sulit membedakan mana yang seorang mualaf bercerita soal prosesnya menjadi Islam, dan mana yang memposisikan diri sebagai ustaz.


“Konteks kita seringkali sulit membedakan mana dia sebagai cerita kesadaran diri proses berislam, dan memposisikan diri sebagai ustaz. Ustaz artinya orang yang sudah menjadi guru. Jadi storytelling seringkali disamakan dengan ustaz yang mengajari,” ujar Ketua MUI itu. [Democrazy/sra]