-->

Breaking

logo

Jumat, 12 Februari 2021

Gus Dur Berhasil Hilangkan Diskriminasi terhadap Etnis Tionghoa

Gus Dur Berhasil Hilangkan Diskriminasi terhadap Etnis Tionghoa

Gus-Dur-Berhasil-Hilangkan-Diskriminasi-terhadap-Etnis-Tionghoa

DEMOCRAZY.ID - Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ingin membangun Indonesia baru yang damai tanpa prasangka dan bebas dari kebencian. 

Untuk itu, masa lalu yang kejam, kelam, serta tidak toleran harus diputus. Partisipasi masyarakat mesti dibangun, yang lemah tidak ditinggalkan.


"Dengan kesetiakawanan yang luas dan menyeluruh itu kita baru bisa membangun Indonesia yang kuat," kata Mantan Jubir Presiden Abdurrahman Wahi,Yahya C Staquf dalam suatu kesempatan.


Untuk mewujudkan itu, Gus Dur menghilangkan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa dengan Instruksi Presiden (Inpres) No 6/2000 yang dikeluarkan tanggal 17 Januari 2000 untuk mencabut Inpres 14/1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China.


"Pada masa Orde Baru, orang takut bersembahyang di kelenteng atau melakukan acara budaya Tionghoa lainnya. Namun sejak masa pemerintahan Gus Dur, tahun baru Imlek dijadikan libur fakultatif," ucapnya.


Gus Dur juga tidak keberatan untuk meminta maaf kepada korban 1965 yang diserang oleh Banser NU. 


Meskipun Gus Dur mengatakan bahwa ia juga memiliki kerabat yang terbunuh dalam peristiwa Madiun 1948.


“Namun, balas dendam itu tidak ada gunanya dilanjutkan. Kita tidak akan mampu mewujudkan rekonsiliasi tanpa menghilangkan stigma atau kecurigaan terhadap suatu kelompok,” katanya.


Langkah berikutnya, Gus Dur, membubarkan Bakorstranas, lembaga ekstra yudisial penerus Kopkamtib yang memiliki kewenangan luas untuk menindas. 


Ia juga menghapuskan litsus (penelitian khusus) yang selama ini digunakan untuk 'menakuti' pegawai negeri agar tidak bersikap kritis.


"Gus Dur membuka cakrawala masyarakat agar lebih toleran terhadap ajaran atau paham politik mana pun," ungkapnya.


Dikatakannya, Gus Dur tidak hanya menjadi guru bagi sekelompok santri di pesantren-pesantren. 


Diakui atau tidak, Gus Dur mengajari sebuah generasi tentang kehidupan berkebangsaan yang indah dan berdaulat.


"Semua sepakat, Gus Dur adalah guru bagi bangsa ini. Namun Gus Dur bukan sekedar guru yang hanya selalu berdiri di depan murid-muridnya. Gus Dur adalah sebuah pergerakan," ujarnya.


Meski kondisi fisiknya terus menurun, pembelaannya terhadap kelompok minoritas dan yang tersudutkan tidak pernah surut. 


Gus Dur membuka pintu lebar-lebar bagi penganut keimanan dan kepercayaan lain. Mempersilakan setiap kaum untuk mengekspresikan adab dan budayanya.


"Memberikan tangan bagi mereka yang terpojokkan. Menyambung silaturahmi dan berteman dengan begitu banyak orang, golongan, profesi dari berbagai macam lapisan," tuturnya. [Democrazy/okz]