-->

Breaking

logo

Jumat, 12 Februari 2021

Dua Ulama Besar Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Presiden PKS: Kabarnya Bung Karno Juga Pernah Sowan

Dua Ulama Besar Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Presiden PKS: Kabarnya Bung Karno Juga Pernah Sowan

Dua-Ulama-Besar-Diusulkan-Jadi-Pahlawan-Nasional-Presiden-PKS-Kabarnya-Bung-Karno-Juga-Pernah-Sowan

DEMOCRAZY.ID - Presiden Partai Keadilan Sejahtera yaitu Ahmad Syaikhu telah mendengar soal adanya usulan menjadikan dua ulama besar menjadi Pahlawan Nasional.

Ahmad Syaikhu mengaku langsung mendukung penuh rencana tersebut ketika pertama kali mendengar kabar itu.


“Sebuah kabar gembira saya dapat dari seorang sahabat. Isinya tentang usulan dua ulama besar dan kharismatik untuk menjadi Pahlawan Nasional. Mendengar itu, tanpa perlu pikir panjang saya sangat mendukungnya,” katanya.


Presiden PKS itu mengatakan bahwa dua ulama besar yang diusulkan menjadi Pahlawan Nasional tersebut adalah KH Muhammad Cholil dan KH Bisri Syansuri.


“Betapa tidak. Dua nama ulama tersebut adalah KH Muhammad Cholil atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Cholil Bangkalan. Satu lagi KH Bisri Syansuri yang dikenal sebagai Ahli Fiqih. Keduanya dari Nahdlatul Ulama (NU),” tuturnya.


Lebih lanjut Ahmad Syaikhu mengatakan bahwa kedua ulama besar Indonesia itu telah layak untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.


“Saya menilai keduanya sangat pantas menyandang gelar Pahlawan Nasional. Rekam jejak dua ulama di atas menjadi bukti. KH Cholil dan KH Bisri Syansuri merupakan sosok yang telah banyak memberikan kontribusi penting bagi perjalanan bangsa Indonesia,” ujarnya dikutip dari laman resmi PKS.


KH Cholil misalnya, dikenal sebagai guru dari ulama-ulama besar di Nusantara, seperti KH Hasyim Asyari, Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan KH Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah. 


“Beliau juga aktif memberikan dukungan moral bagi perjuangan para santri-santrinya dalam melawan penjajahan Belanda. Bahkan saya mendapat informasi, ada sebagian kesaksian jika Bung Karno juga pernah sowan kepada KH Cholil. Tujuannya untuk mendapatkan restu dalam perjuangan menggalang kekuatan melawan Penjajah Belanda,” tuturnya.


“Begitu pula dengan KH Bisri Syansuri. Beliau merupakan Pendiri Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang. Terlibat aktif dalam perlawanan terhadap penjajah sebagai Komandan Markas Besar Ulama. Pada tahun 1919, KH Bisri Syansuri mendirikan kelas untuk santri perempuan di pesantrennya. Para santri putri itu adalah anak tetangga sekitar yang diajar di beranda belakang rumahnya,” ujarnya melanjutkan.


Usulan dua ulama tersebut menjadi Pahlawan Nasional itu dikatakan Ahmad Syaikhu menunjukkan peran ulama dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.


“Kiprah kedua ulama panutan tersebut membuat saya sangat mendukung jadi Pahlawan Nasional. Ini sekaligus menunjukkan betapa sangat besarnya kontribusi NU dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Karena itu, istilah Jas Hijau yang dipopulerkan oleh Wakil Ketua MPR RI DR. Hidayat Nur Wahid menjadi sangat relevan,” katanya. [Democrazy/pkry]