-->

Breaking

logo

Jumat, 19 Februari 2021

Bersama Tokoh Istana Ini, Darmizal Klaim Pernah Jadi Suksesor SBY

Bersama Tokoh Istana Ini, Darmizal Klaim Pernah Jadi Suksesor SBY

Bersama-Tokoh-Istana-Ini-Darmizal-Klaim-Pernah-Jadi-Suksesor-SBY

DEMOCRAZY.ID - Mantan Wakil Ketua Komisi Pengawas Partai Demokrat, Darmizal menyebut kedekatannya dengan Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko sudah terjalin cukup lama. 

Bahkan, dirinya mengaku menjadi aktor di balik pertemuan para kader Partai Demokrat dengan Moeldoko.


Darmizal menyebut dirinya dan Moeldoko sama-sama pernah membantu mantan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sukses menjadi Presiden selama dua periode.


"Dan saya berterima kasih diberi gelar sebagai aktor dalam pertemuan antara kader dengan Pak Moeldoko sahabat saya sejak tahun 96. Sebagaimana kami dulu juga menjadi aktor menghantar SBY menjadi presiden tahun 2004-2014 itu catatan sejarah," ujar Darmizal dikutip dari video diterima, Kamis (18/2/2021).


Darmizal, menceritakan dirinya yang turun langsung membantu SBY merebut tahta Ketum Partai Demokrat dari Anas Urbaningrum di tahun 2013. 


Namun, terpilihnya kembali SBY membuat suara Partai Demokrat turun drastis pada Pemilu 2014.


"Kenapa harus saya turun gunung? Diminta oleh SBY harapan petinggi waktu itu adalah pada saat SBY mengambil partai hasil dari KLB menjadi ketua umum menggantikan Anas. Posisi Partai Demokrat adalah 21% di Parlemen. Kemudian, saat SBY memimpin pada Pemilu berikutnya Partai Demokrat hanya tersisa 11% ditahun 2014," kata Darmizal.


Menurunnya hasil suara Partai Demokrat di Pemilu 2014, membuat Darmizal berfikir bahwa ada sesuatu yang harus dibenahi. 


Darmizal menilai kala itu SBY akan fokus mengurus Partai Demokrat usai mengakhiri tugas sebagai Presiden dua periode.


Namun, Darmizal tersadar hal tersebut tidak terjadi. Malah sebaliknya, keresahan semakin bertambah usai anak sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terpilih menjadi Ketum PD hasil Kongres 2020.


"Hari ini saya ternyata salah, saya salah besar dan saya malu kesalahan itu harus ditebus ternyata partai ini tidak boleh hanya menjadi milik satu kelompok kecil orang saja atau tidak boleh menjadi partai dinasti, harus menjadi partai terbuka harus menjadi partai milik kader menjalankan konsep kepemimpinan tidak boleh yang diatas menyodok yang di bawah, tapi yang di atas harus berkonstribusi ke bawah supaya partai ini menjadi partai yang besar," ungkapnya.


Darmizal menyebut, saat ini seluruh kader PD merasa terzalimi di bawah kepemimpinan AHY. 


Sebab, wewenang dan otoritas mereka diberangus semua ditarik ke pusat.


"Pemilihan bupati pemilih wali kota semua tidak lagi menjadi otoritas DPC untuk memilih calon-calon terbaik mereka ditarik ke pusat ini tidak boleh lagi terjadi. Pusat adalah pusat kebijakan tempat strategis membuat kajian-kajian kebijakan untuk diimplementasikan di daerah itulah mestinya partai," pungkasnya. [Democrazy/okz]