-->

Breaking

logo

Senin, 22 Februari 2021

Begini Kronologi Relawan FPI Dipaksa Copot Atribut di Lokasi Banjir

Begini Kronologi Relawan FPI Dipaksa Copot Atribut di Lokasi Banjir

Begini-Kronologi-Relawan-FPI-Dipaksa-Copot-Atribut-di-Lokasi-Banjir

DEMOCRAZY.ID - Tim Hukum Front Persaudaraan Islam FPI, Sugito Atmo Prawiro menjelaskan kronologi sejumlah relawan FPI diminta mencopot atribut Front Pembela Islam oleh polisi saat memberikan bantuan kepada korban banjir di Cipinang Melayu, Jakarta Timur.

Sugito mengatakan kejadian itu bermula saat relawan Front Persaudaraan Islam menggunakan seragam dan atribut Front Pembela Islam yang lama saat membantu di lokasi bencana. 


Diketahui, pemerintah sudah melarang Front Pembela Islam melakukan kegiatan.


Pihak aparat keamanan lalu tak memperbolehkan relawan menggunakan atribut Front Pembela Islam di lokasi bencana dengan alasan sudah dibubarkan oleh pemerintah. Aparat keamanan lantas meminta agar relawan tersebut mencopot atribut tersebut.



"Mereka itu relawan Front Persaudaraan Islam. Sebenarnya kan FPI udah jadi front Persaudaraan Islam. Tapi ada sebagian [relawan] yang menggunakan logo [FPI] yang masih lama. Nah jadi karena itu mereka suruh melepaskan," kata Sugitom, Senin (22/2).


Sugito menyebut relawan yang diperintahkan melepas atribut Front Pembela Islam itu terjadi saat memberikan bantuan kepada korban banjir di Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur dan di wilayah Kalimantan beberapa hari lalu.


Meski demikian, Sugito menjelaskan pihaknya tak mempersoalkan bila relawan harus mencopot atribut tersebut. 


a pun berharap relawan tetap diperbolehkan memberikan bantuan kepada korban banjir jika sudah mencopot atribut tersebut.


"Jadi yang dibubarkan itu kalau ada logo Front Pembela Islam yang lama. Tapi untuk aktivitas kemanusiaan tetap diperbolehkan. Tetap dilanjutkan tapi enggak gunakan seragam yang lama," kata dia.


Sugito mengatakan pihaknya akan segera melakukan sosialisasi kepada seluruh jajaran Front Persaudaraan Islam di seluruh Indonesia terkait penggunaan atribut dan logo baru.


Hal itu bertujuan agar tak terulang lagi upaya pembubaran dalam melakukan aktivitas kemanusiaan di seluruh Indonesia.


"Karena kita memang perubahan Front Persaudaraan Islam kan baru. Jadi ga sempat mensosialisasikan mengenai masalah seragam dan logonya. Masih gunakan yang lama," kata dia.


Sebelumnya Wakil Sekretaris Umum Front Pembela Islam Aziz Yanuar turut membenarkan ada kejadian pembubaran relawan Front Persaudaraan Islam saat memberikan bantuan kepada korban banjir di Cipinang Melayu, Jakarta.


Aziz mengatakan pihaknya tidak ambil pusing dengan kejadian itu. Ia menyebut, yang terpenting adalah masyarakat bisa mendapatkan bantuan.


"Iya infonya demikian (dibubarkan polisi). Itu relawan Front Persaudaraan Islam," kata Aziz kemarin (21/2).


Sementara itu, Kapolsek Makasar Kompol Saiful Anwar mengklaim pihaknya tidak membubarkan relawan itu. 


Polisi, kata dia, mengimbau relawan untuk melepas atribut jika ingin membantu.


Ia mengatakan sejumlah orang kala itu menggunakan baju berlogo Front Pembela Islam dan membawa perahu, bendera, serta pelampung berlogo  Front Pembela Islam.


"Jadi itu bukan kita bubarkan. Mereka kan awalnya mau bantu. Tetapi kan segala bentuk kegiatan FPI sudah dilarang di Indonesia. Segala bentuk kegiatan yang mengatasnamakan FPI itu kan dilarang. Sehingga kemarin itu kami imbau kalau mereka mau bantu, lepaskan atribut FPI, jangan pakai atribut," kata Saiful kemarin (21/2). [Democrazy/cnn]