-->

Breaking

logo

Sabtu, 09 Januari 2021

Soal Utang Negara Tinggi, SBY: Pemimpin Bijak Tak Akan Wariskan Beban ke Pemerintah Berikutnya

Soal Utang Negara Tinggi, SBY: Pemimpin Bijak Tak Akan Wariskan Beban ke Pemerintah Berikutnya

Soal Utang Negara Tinggi, SBY: Pemimpin Bijak Tak Akan Wariskan Beban ke Pemerintah Berikutnya
DEMOCRAZY.ID - Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti soal utang negara yang melambung tinggi. 

Memasuki awal tahun 2021, SBY mengungkapkan sejumlah keprihatinannya terkait keadaan Indonesia saat ini.


Dalam akun Facebook pribadinya, SBY menyebut tahun 2020 merupakan tahun yang amat berat bagi umat manusia.


Sementara sejarah mencatat sebagai tahun kelam, tahun musibah lantaran adanya pandemic Virus Corona (Covid-19) yang tidak diperkirakan kapan berakhirnya.


Menurut SBY, sama halnya dengan negara-negara lain di dunia, Indonesia juga terjadi krisis kesehatan yang begitu hebatnya mengingat kian hari diawal tahun ini jumlah kasus Covid-19 meningkat.


Nampak bahwa banyaknya korban jiwa sebab terinfeksi Covid-19 bahkan Indonesia tercatat sebagai negara dengan kasus terbanyak di Asia Tenggara dan Asia Timur.


"Ekonomi kita juga mengalami resesi dan tekanan-tekanan lain, yang akhirnya menambah beban hidup dan penderitaan rakyat," kata SBY, yang dikutip Pikiranrakyat-Bekasi.com dari unggahan Facebook Susilo Bambang Yudhoyono, Sabtu, 9 Januari 2021.


Menurut SBY, hampir semua negara berpendapat bahwa keberhasilan menangani Covid-19 akan mendorong suksesnya pemulihan ekonomi dari krisis saat ini.


Hal itu mungkin benar adanya. Namun menurut SBY, tantangan utama Pemerintah Indonesia adalah bagaimana fiskal dan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) bisa dikelola dengan baik.


"Juga bagaimana utang Indonesia dapat dikontrol secara ketat dan serius. Utang yang ada menurut saya sudah sangat tinggi dan karenanya tidak aman," kata SBY.


"Persoalannya bukan hanya meningkatnya rasio utang terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia, tetapi yang berat adalah utang yang besar itu sangat membebani APBN kita. Membatasi ruang gerak ekonomi kita," sambungnya.


SBY menilai, kondisi ekonomi Indonesia akan sangat berat jika misalnya 40 persen lebih belanja negara harus dikeluarkan untuk membayar cicilan dan bunga utang.


"Jadi, jangan hanya berlindung pada persentase debt-to-GDP ratio yang dianggap masih aman dan diperbolehkan undang-undang. Bukan di situ persoalannya.


Persoalannya terletak pada kemampuan pemerintah untuk membayar utang itu yang dirasakan sudah sangat mencekik," tuturnya.


Meski demikian, SBY menilai, permasalahan utang yang sangat serius itu secara bertahap dapat diatasi.


"Cara pertama yang paling sederhana adalah kurangi defisit anggaran. Kalau tahu penerimaan negara jauh berkurang, karena pemasukan dari pajak terjun bebas, ya kendalikan pembelanjaan negara," kata SBY.


SBY juga meminta pemerintah harus disiplin dan harus berani menunda proyek dan pengadaan strategis yang masih bisa ditunda.


Artikel ini telah tayang di Bekasi.Pikiran-rakyat.com dengan judul Bicara Soal Utang Negara, SBY: Pemimpin yang Baik Tak Akan Wariskan Beban pada Pemerintah Berikutnya


"Jangan karena Perppu (kemudian jadi undang-undang) yang memberikan ekstra power kepada pemerintah, termasuk tak dibatasinya angka defisit anggaran, lantas tak pandai menentukan berapa besar defisit yang aman dalam APBN," kata SBY.


SBY lantas mengingatkan bahwa di tahun 1960-an dulu, ekonomi Indonesia jatuh pada titik terendah, karena pemerintah tak pandai mengontrol pembelanjaan yang kelewat tinggi. Seperti pepatah 'besar pasak daripada tiang'.


Meski demikian, SBY berharap semoga dengan suksesnya penanganan Covid-19, maka akan terbuka jalan untuk menggerakkan kembali perekonomian Indonesia.


"Imperatifnya, pemerintah harus disiplin dan tepat dalam mengatur keuangan negara. Juga harus mengendalikan utang, agar ekonomi kita di tahun-tahun mendatang dapat diselamatkan," kata SBY.


Tak hanya itu, SBY menyinggung pemimpin bijak yang menurutnya tidak akan mewariskan masalah dan beban kepada pemerintahan berikutnya.


"Pemimpin dan pemerintahan yang bijaksana tentu tidak akan mewariskan masalah dan beban yang sangat berlebihan kepada pemerintah-pemerintahan berikutnya," ujar SBY. [Democrazy/jrps]