-->

Breaking

logo

Minggu, 03 Januari 2021

Mengukur Peluang AHY di 2024 Jika Diduetkan dengan Beberapa Figur Ini

Mengukur Peluang AHY di 2024 Jika Diduetkan dengan Beberapa Figur Ini

Mengukur Peluang AHY di 2024 Jika Diduetkan dengan Beberapa Figur Ini
DEMOCRAZY.ID - Nama Agus Harimurti Yudhoyono atau akrab disebut AHY tidak pernah absen dari papan klasemen lembaga survei sebagai salah seorang kandidat potensial di ajang kontestasi Pilpres 2024 mendatang.

Terhangat, menurut survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), elektabilitas AHY berada di bawah Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga S Uno, kemudian menempel ketat Menteri Sosial Tri Rismaharini dan ungguli sejumlah ketua umum partai dan profesional muda lainnya.


Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Riset dan Analisis (SUDRA) Fadhli Harahab mengatakan, masuknya nama AHY dalam papan survei tak lepas dari kepopulerannya sebagai individu maupun sebagai Ketum DPP Partai Demokrat.


Sebagai individu, AHY memang cukup populer karena kehidupan pribadinya yang merupakan keluarga dari Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ditambah lagi AHY adalah suami dari aktris ternama Anissa Pohan.


Budiman Unggah Foto Risma, Warganet: Next Ibu Jadi Presiden Ya


Sebagai Ketum Partai Demokrat, AHY merupakan garis ideologis SBY yang mampu mengonsolidasi kader Demokrat sehingga menjadikannya sebagai ketua umum. "Kepopulerannya tak lepas dari dua hal itu. 


Dari situ kemudian elektabitasnya terjaring lembaga survei nasional," ujarnya saat dihubungi, Minggu (3/1/2021).


Namun demikian, Fadhli melihat peluang AHY bertarung di Pilpres 2024 cukup kecil. 


Alasannya, AHY belum cukup berpengalaman memimpin birokrasi sipil sebagai pengambil kebijakan publik. 


"Kalau bicara kelayakan, AHY belum teruji. Dia belum pernah menjadi pengambil kebijakan di lembaga publik manapun, bahkan AHY sendiri baru terlibat politik praktis sejak dia memutuskan mundur dari institusi militer," katanya.


Kedua, soal dukungan parpol atau gabungan parpol. Menurut analis politik asal UIN Jakarta itu, praktis baru hanya partai Demokrat yang mendukungnya sebagai kandidat capres/cawapres mendatang.


"Artinya Demokrat harus bisa merangkul parpol untuk dapat menembus presidential threshold. Di sini butuh figur SBY turun gunung," katanya. 


Ketiga, gengsi politik. Fadhli mengatakan, Partai Demokrat harus bisa menundukkan gengsi politik tokoh pendamping AHY jika ingin menjadi kandidat.


"Meski AHY adalah Ketum Demokrat. Tetapi dia belum pernah teruji memimpin pemerintahan sipil. Kemudian ujug-ujug ingin disandingkan dengan salah salah satu tokoh politik yang punya pengalaman dan kapabilitas kuat, seperti kepala daerah atau profesional muda, tentu ini akan memunculkan gengsi politik," ujarnya.


Apalagi kalau bicara pragmatisme parpol, tentu saja mereka akan lebih memilih berkoalisi dengan figur yang kemungkinan besar menang. 


Dia menyebutkan, ada beberapa figur yang terpotret dalam lembaga survei bisa menjadi pendamping AHY.


Misalnya, kata Fadhli, mantan Menteri Kelautan, Susi Pudjiastuti dan Menteri BUMN, Erick Thohir, meski peluang ini juga relatif kecil. 


Mengingat, Susi berpotensi terasosiasikan dengan partai Demokrat, dan Erick dengan Partai Golkar. 


Namun demikian, lanjut Fadhli berbagai kemungkinan masih bisa terjadi, mengingat Pilpres 2024 masih jauh. Partai Demokrat harus bisa menjadi kunci apabila ingin meloloskan AHY sebagai salah satu kandidat.


"Dinamika politik itu bisa berubah dalam hitungan menit. Partai Demokrat harus bisa menjadi pemain kunci untuk dapat meloloskan AHY sebagai kandidat," katanya. [Democrazy/sdnws]