-->

Breaking

logo

Senin, 11 Januari 2021

Captain Vincent Raditya Sebut Hal Mengerikan Ini Terjadi pada Sriwijaya Air dari Data Flightradar24

Captain Vincent Raditya Sebut Hal Mengerikan Ini Terjadi pada Sriwijaya Air dari Data Flightradar24

Captain Vincent Raditya Sebut Hal Mengerikan Ini Terjadi pada Sriwijaya Air dari Data Flightradar24
DEMOCRAZY.ID - Captain Vincent Raditya, seorang kapten pilot maskapai swasta nasional, menyebut ada peristiwa mengerikan yang diduga terjadi pada pesawat Sriwijaya Air SJ182.

Hal itu ia sampaikan dalam sebuah video yang dia unggah di channel Youtube Vincent Raditya, Minggu 10 Januari 2021.


Pilot yang juga dikenal sebagai vlogger itu menganalisis sejumlah data di flightradar24.com untuk menduga apa yang terjadi pada pesawat Sriwijaya Air tujuan Pontianak itu.


Vincent menjelaskan, dari parking stand sampai pesawat push back dan taxing menuju run way relatif tidak ada sesuatu yang janggal.


"Memang ada beberapa pergerakan yang aneh, tapi ini dimungkinkan karena kesalahan sensor di flightradar, bukan pesawatnya," kata Vincent, seperti dikutip dari channel Youtube pribadinya.


Menurut dia, proses take off, kecepatan, dan climbing pesawat Boeing 737-500 classic itu tidak ada masalah. Pergerakan pesawat sudah sesuai dengan jalur menuju Pontianak.


"Climb di ketinggian 2.000 kaki, ground speed, semua normal. Kalau ditarik garis lurus, sudah mengarah ke Pontianak.


"Semua on the track, tidak ada indikasi muncul masalah," jelas pilot yang channelnya sudah di-subscribe lebih 4,5 juta penggemar.


Tetapi, kata dia, sekitar 4 menit setelah take off, pesawat terlihat oleng 38 derajat. Bisa saja saat itu terjadi turbulance.


"Tidak sampai 1 menit, pesawat belok 16 derajat off track. Ini tidak normal. Pesawat lalu menikung ke kiri, tapi masih bisa climb perlahan," tuturnya.


"Belum sampai 1 menit, pesawat off track 40 derajat. Kurang dari 1 menit pesawat menghadap ke kiri, drastis, lalu dive down ke 8.900 kaki dari sebelumnay 10.700.


"Itu turun 2 ribuan kaki, ground speed 284, kemungkinan indicated ground speed di bawah 200 knot. Dengan climb coviguration, ini berisiko terkena stall," terang Vincent.


Stall adalah daya angkat pesawat. Jika pesawat stall, maka sangat berisiko akan jatuh.


"The next following jatuh speed di bawah 190 knot. Artinya di bawah 170 atau 160. Ini perkiraan saja. Kalau lihat ground speed 115 knot, indikasi keras terkena full stall, dan itu sulit di-recover," tuturnya.


Ia menyebut, data 1 menit terakhir sebelum lost contact, indikasinya tidak normal.


"Dari menit 07.39 UTC hanya 1 menit jatuh dari ketinggian 11 ribu kaki ke kanan dengan kecepatan sangat ekstrem," tukasnya.


Apa yang sebenarnya terjadi? Vincent tidak bisa menyimpulkan. Ia meminta publik menunggu investigasi KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi).


"Sekali lagi, data-data yang ada di flightradar ini akurasinya mungkin hanya 30, atau bahkan 20 persen saja. Tidak bisa jadi patokan.


"Saya hanya membantu pertanyaan netizen yang tanya apa maksud dari data-data yang ada di flightradar ini. Saya berbela sungkawa kepada semua korban," tutupnya. [Democrazy/prjb]