-->

Breaking

logo

Sabtu, 02 Januari 2021

Bubarkan FPI, Pakar Sebut Pemerintah Sangat Konyol, Ibarat Orang Mau ke Kamar Mandi, Sudah Kebelet

Bubarkan FPI, Pakar Sebut Pemerintah Sangat Konyol, Ibarat Orang Mau ke Kamar Mandi, Sudah Kebelet

Bubarkan FPI, Pakar Sebut Pemerintah Sangat Konyol, Ibarat Orang Mau ke Kamar Mandi, Sudah Kebelet
DEMOCRAZY.ID - Pemerintah melakukan kesalahan dalam pembubaran Front Pembela Islam (FPI), sebagai negara yang menganut hukum positif, semestinya pembubaran ormas harus lewat persidangan.

Hal tersebut dikatakan Pakar Hukum Pidana Dr Muhammad Taufiq dalam kanal Bravos Radio Indonesia di YouTube. (31/112/2020)


M Taufik mengatakan "Sepertinya negara ini belajar sewenang-wenang dari kasus Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Saat itu HTI tiba-tiba ditutup dan dilarang," ujarnya.


Namun, Taufik menilai, pembubaran FPI lebih konyol karena melibatkan tentara. Apalagi ada tentara di bawah Pangdam Jaya Mayor Jenderal TNI Dudung Abdurachman yang pamer kekuatan tentara di Petamburan.


"Tentara di bawah Mayjen Dudung itu tentara unik," ucapnya.  


Ia menegaskan, pembubaran suatu ormas dikatakan sah bila melewati proses pengadilan. 


Ini karena Indonesia menganut hukum positif maka harus lewat proses pengadilan. 


"TIdak ada pembubaran ormas tanpa lewat proses pengadilan". tegasnya. 


"Saya yakin di semua lini non-governmental organisation (NGO) yang berkaitan dengan demokrasi semuanya berpendapat sama bahwa cara negara itu tidak benar. Lebih-lebih tentara ikut masuk ke Petamburan, itu konyol, tidak beradab, dan makin mundur," serunya. 


Taufik menyebut, keputusan pemerintah membubarkan FPI karena negara posisinya sekarang ibarat orang mau ke kamar mandi, sudah kebelet. Ketika sudah kebelet, nalar sehatnya tidak dipakai. 


Kalau berbicara pembubaran FPI, ketika memberlakukan suatu peraturan, maka orang yang dikenakan peraturan itu harus dilindungi hak-haknya. ungkapnya.  


"Jadi orang yang memberlakukan peraturan kena, yang diberlakukan juga kena," ujarnya.  Namun, sambung Taufik, yang terjadi sekarang di era pemerintahan Jokowi, negara tidak boleh kalah melawan warga negara. Terlebih kata Taufik, 


Dalam pembukaan UUD 1945 sudah jelas persamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan, yakni asas equality before the low.


"Makanya diaturlah Pasal 27, Pasal 28. Jadi setiap warga negara Indonesia punya hak untuk berkumpul, berserikat dan mengutamakan pendapatnya. Saya hanya mau bilang, pembubaran FPI oleh pemerintah sangat konyol," pungkas Taufik. [Democrazy/bzlw]