-->

Breaking

logo

Selasa, 12 Januari 2021

Boyamin MAKI Klaim Dapat Info Harun Masiku Sudah Meninggal Dunia

Boyamin MAKI Klaim Dapat Info Harun Masiku Sudah Meninggal Dunia

Boyamin MAKI Klaim Dapat Info Harun Masiku Sudah Meninggal Dunia
DEMOCRAZY.ID - Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman, mengklaim tersangka dalam kasus suap pergantian antarwaktu anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Harun Masiku telah meninggal. Dia menyebut mendapat informasi akurat dari jaringannya mantan intelijen.

Boyamin sendiri dulu pernah memberikan informasi soal lokasi keberadaan Djoko Tjandra saat berstatus buron. Kini Djoko Tjandra sudah ditangkap.


"Mohon diambil dari itu saja. Karena khawatir tidak lengkap," ujarnya saat dihubungi, Senin (11/1/2020).


Diketahui, beberapa kali Boyamin menyampaikan ada dugaan Harun Masiku telah meninggal. Karni Ilyas, bertanya soal pandangannya tersebut.


"Jaringan saya menyebutkan Harun Masiku sudah tidak ada atau meninggal tanda kutipnya, tidak tahu seperti apa," ucap Boyamin.


Menurut Boyamin, informasi itu diberikan bukan oleh informan sembarangan. Dia menyebut jaringannya itu jaringan terbaiknya.


"Jaringan terbaik saya loh. Jujur ada beberapa pensiunan di lembaga intelijen. Beberapa mengatakan ke saya, itu (Harun) sudah meninggal," katanya.


Dia mengatakan tidak ada pembantahan atau informasi lain. Sehingga, dia meyakini hal tersebut.


"Yakin karena tidak ada informasi sebaliknya kan. Kalau bicara keyakinan boleh. Kalau mengatakan, 'Itu sudah meninggal,' salah. Bisa dituntut keluarganya," ujarnya.


"Ada dua orang yang mengatakan. Pensiunan itu (intelijen), yang bisa akses ke beberapa jaringan. (Harun) sudah nggak ada," ujarnya.


Karni Ilyas lalu bertanya apakah Boyamin sudah mengkonfirmasi informasi tersebut kepada keluarga Harun Masiku. Bonyamin menyebut belum dengan beberapa pertimbangan.


"Nggak (konfirmasi). Saya dengar teman di Makassar, (Harun) relatif sudah jarang pulang ke Makassar. Komunikasi tidak intens. Katanya loh," ucapnya.


"Saya tidak tega bertemu keluarganya karena semakin, misal itu tak ada kabar, persepsi saya sudah meninggal, membuat mereka sedih," sambungnya.


Setelah itu, Karni Ilyas bertanya, jika Harun Masiku sudah meninggal, meninggal karena sakit, atau dibunuh. Boyamin duga, Harun dibunuh oleh seseorang.


"Persentase lebih banyak ke yang kedua (dibunuh). Karena umurnya di bawah saya. Track record (dari) teman, (Harun) tak pernah sakit," ucapnya.


Tapi, Boyamin tidak menyebut siapa yang membunuh Harun. Dia mengaku belum mendapat informasi.


"Detektif swasta saya belum mampu harus omong siapa. Masyarakat bisa menduga-duga siapa. Biarlah imajinasi liar di otak kita masing-masing," ucapnya.


Meninggalnya Harun Masiku sudah beberapa kali santer diembuskan. Bagaimana tanggapan KPK?


Pada Mei 2020, KPK mengatakan tetap berupaya menangkap Harun Masiku dan tidak akan terganggu dengan isu tersebut.


"Kami terus mencari keberadaan tersangka tersebut dibantu rekan-rekan kepolisian karena status DPO-nya. Demikian pula penyidikan atas perkaranya masih tetap berjalan, kami tidak terpengaruh dengan spekulasi-spekulasi dari beberapa pihak mengenai dugaan telah meninggalnya tersangka," kata Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango kepada wartawan, Kamis (14/5/2020).


Kabar kemungkinan tewasnya Harun Masiku itu dikemukakan oleh Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) dan Indonesia Police Watch (IPW). 


Kedua lembaga itu mengatakan kemungkinan kematian Harun Masiku didasari dari tak adanya informasi terkait keberadaannya sejak ditetapkan sebagai buron hingga kini.


Sementara itu, dalam wawancara terpisah, Wakil Ketua KPK bidang Penindakan Nawawi Pomolamo mengaku telah meminta Plt Direktur Penyidikan Brigjen Setyo Budi dan Deputi Penindakan KPK Irjen Pol Karyoto untuk mengevaluasi kinerja tim pemburu Harun Masiku. 


Sebab sejak masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) pada 27 Januari lalu, hingga kini jejak tersangka suap itu tak terlacak.


"Bagaimana progresnya, apa kendalanya? Kalau memang butuh Tim Satgas pendamping atau penambahan personel, silahkan," kata Nawawi, Jumat (14/8/2020).


Opsi tim pendamping atau tambahan personel ditawarkan mengingat tim satgas penyidikan ini tak terlibat dalam proses penyelidikan kasus Harun Masiku sejak awal.


Selain dua pejabat KPK tadi, Nawai Pomolango mengaku secara intens meminta penjelasan langsung dari tim satgas.


"Salah satu alasan yang mengemuka, Harun Masiku kemungkinkan tak menggunakan perangkat telekomunikasi sehingga tak terdeteksi oleh alat sadap KPK," ujar Nawawi. [Democrazy/dtk]