-->

Breaking

logo

Kamis, 28 Januari 2021

Analis: Vaksinasi Kelihatan Lelet Banget, Sudah 15 Hari Belum Juga Lampaui Satu Juta

Analis: Vaksinasi Kelihatan Lelet Banget, Sudah 15 Hari Belum Juga Lampaui Satu Juta

Analis-Vaksinasi-Kelihatan-Lelet-Banget-Sudah-15-Hari-Belum-Juga-Lampaui-Satu-Juta
DEMOCRAZY.ID - Pelaksanaan vaksinasi massal di Indonesia dinilai berlangsung terlalu lambat. Hingga 15 hari, belum melampaui satu juta orang.

Analis Rustam Ibrahim menilai demikian untuk menanggapi pernyataan Presiden Joko Widodo yang disampaikan melalui akun Twitter.


Jokowi mengatakan sudah dua pekan pemerintah menggelar vaksinasi massal Covid-19. 


Disebutkan Jokowi, hingga kemarin, (Rabu (27/1/2021), sudah sekitar 250.000 tenaga kesehatan yang telah menjalani vaksinasi. 


Jokowi tak menampik adanya kendala dalam proses vaksinasi nasional tahap pertama, tetapi dia menjanjikan pemerintah akan membenahinya terus menerus sampai tercapai target yang dipatok. 


"Memang terasa masih kurang, tapi dari hari ke hari kita tetap membenahi manajemen pelaksanaan vaksinasi," kata Jokowi.


"Sekarang, vaksinasi sudah bisa untuk 50.000 tenaga kesehatan. Pemerintah berusaha mencapai target vaksinasi sampai satu juta warga setiap hari. Kita memiliki 30.000 vaksinator di 10.000 puskesmas dan 3.000 RS. Dengan pembenahan manajemen yang baik, semoga dapat tercapai."


Tetapi Rustam Ibrahim mengingatkan bahwa sudah dua pekan vaksinasi massal dilakukan. 


"Tapi pelaksanaannya kelihatan lelet. Sudah 15 hari belum melampau satu juta!?" kata Rustam Ibrahim.


Rustam Ibrahim membandingkan dengan Inggris yang menargetkan vaksinasi 500.000 per hari. 


Uni Eropa menargetkan vaksinasi 70 persen penduduk dewasa pada bulan Agustus mendatang.


Pembenahan


Kemarin, usai menerima vaksin tahap kedua, Jokowi mengungkapkan pemerintah terus melakukan pembenahan dalam menghadapi kendala yang ditemui saat pelaksanaan program vaksinasi Covid-19 yang diberikan secara gratis kepada masyarakat Indonesia.


“Ini kan memang baru awal-awal ya, vaksinasi ini awal dimulai dari tenaga kesehatan (nakes), baik dokter maupun perawat. Biasa di awal itu ada manajemen di lapangan yang perlu diperbaiki,” ujarnya di halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta.


Presiden mengungkapkan, hingga hari ini baru terdapat kurang lebih 250 ribu tenaga kesehatan yang sudah memperoleh suntikan vaksin Covid-19 tahap pertama. 


Namun, terdapat penambahan jumlah yang signifikan dalam 1-2 hari terakhir.


“Sehari-dua hari ini sudah melonjaknya cukup tajam, jadi sehari bisa 50 ribu (vaksinasi),” kata Presiden.


Presiden mengatakan, dengan 30.000 vaksinator yang ada di kurang lebih 10.000 puskesmas maupun 3.000 rumah sakit, ia menargetkan 900 ribu – 1 juta pelaksanaan vaksinasi per hari


“Ini target. Tapi itu memang perlu waktu, perlu manajemen lapangan yang baik dan ini yang selalu terus saya sampai sampaikan pada menteri kesehatan,” kata Presiden.


Menjawab pertanyaan Reisa mengenai rencana dimulainya vaksinasi untuk masyarakat umum, Presiden menyampaikan saat ini prioritas diberikan kepada tenaga kesehatan dilanjutkan dengan TNI-Polri serta petugas pelayan publik baru kemudian kepada masyarakat.


“Ini, sesuai yang saya sampaikan awal. Pertama memang diprioritaskan untuk tenaga kesehatan, dokter, perawat. Ini prioritas. Kemudian nanti berikutnya TNI-Polri dan pelayanan publik, serta masyarakat, nanti berbarengan. Saya kira bulan Februari, pertengahan sudah bisa masuk ke sana,” ujarnya.


Presiden juga kembali mengingatkan bahwa agar dapat keluar dari pandemi pelaksanaan vaksinasi harus berjalan seiring dengan disiplin dalam penerapan protokol kesehatan.


“Tetap dijaga secara disiplin, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak itu penting karena kuncinya juga ada di situ. Selain vaksinasi, kunci yang kedua adalah menjaga protokol kesehatan. Hindari kerumunan, kurangi mobilitas ke mana-mana, saya kira itu,” kata dia. [Democrazy/sra]